Mencoba Menjahit Kembali Ingatan Kolektif Orang Wandan
- 14 Mei 2026 08:56 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - Di bulan ini, angin pala tidak lagi sekadar membawa harum rempah, ia membawa gema ratap yang belum selesai dipanjatkan selama ratusan tahun.
Kala itu— 08 Mei 1621— bukan sekadar angka yang tertulis di dinding sejarah kolonial, melainkan luka terbuka yang diwariskan dari dada para leluhur kepada anak-cucu Wandan di mana pun mereka berpijak.
Hal ini disampaikan Pemuda Wandan Bahar Ali Kubangun kepada rri.co.id, Kamis (14/5/2026).
Tanah Banda pernah menjadi surga kecil di timur Nusantara. Lautnya biru, gunungnya teduh, dan rakyatnya hidup dengan kehormatan, adat, serta keyakinan yang dijaga seperti menjaga nyawa sendiri.
Namun kapal-kapal datang membawa bendera dagang, lalu berubah menjadi mesin pembantaian. Mereka tidak hanya memburu pala, mereka memburu kedaulatan manusia.
Rumah-rumah dibakar, kampung-kampung dilenyapkan, tubuh-tubuh dibuang ke laut, dan nama-nama leluhur dihapus dari catatan kemenangan penjajah.
Tetapi ingatan tidak pernah benar-benar mati. Ia hidup dalam nyanyian tua para tetua, dalam doa ibu-ibu Wandan, dalam kisah yang dibisikkan di serambi rumah, dan dalam air mata yang jatuh diam-diam saat menyebut Banda.
Wandan Munjangiri— bulan mengenang genosida— bukan sekadar ruang berkabung, tetapi ruang menjahit kembali keping-keping identitas yang pernah dicabik kolonialisme.
Karena penjajah selalu percaya bahwa membunuh manusia akan sekaligus membunuh ingatan. Namun mereka lupa: ingatan orang Wandan ditanam lebih dalam daripada akar pala.
Ia tumbuh dalam bahasa, dalam adat, dalam syair, dalam perjuangan, dan dalam keyakinan bahwa sejarah yang disembunyikan harus terus dipanggil pulang.
"Hari ini, anak-anak Wandan mungkin tercerai di berbagai negeri: di Banda, Ambon, Makassar, NTT (Lamahala), Kei, Batavia, hingga tanah-tanah rantau lainnya." Ucapnya
Tetapi darah sejarah itu masih menyala. Dan setiap bulan Mei, kita kembali menjahit luka, menyatukan nama-nama yang tercerabut, serta menyalakan pelita ingatan agar dunia tahu:
pernah ada bangsa kecil yang dibantai demi pala dan kekuasaan, tetapi tidak pernah menyerah untuk tetap hidup dalam ingatan generasinya.
Sebab selama kisah itu masih dituturkan, leluhur belum benar-benar pergi. Dan selama Wandan masih mengingat, Banda tidak akan pernah mati
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....