Makna Mendalam di Balik Ritual Kamis Putih

  • 01 Apr 2026 07:39 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur - Bagi umat Kristiani di seluruh dunia, Kamis Putih bukan sekadar penanda kalender liturgi. Ia adalah sebuah pintu masuk menuju perenungan tentang cinta yang paling rendah hati.

Kamis Putih, atau yang dalam bahasa Belanda dikenal sebagai Witte Donderdag, membawa kita kembali ke sebuah ruang atas di Yerusalem ribuan tahun silam. Di sana, sebuah perjamuan terakhir berlangsung. Namun, pusat perhatian bukan pada kemewahan hidangan, melainkan pada sebuah tindakan yang menjungkirbalikkan logika kekuasaan di zaman itu.

Bayangkan seorang Guru, yang dihormati dan diagungkan, tiba-tiba menanggalkan jubah-Nya, mengambil baskom berisi air, dan berlutut di depan kaki murid-murid-Nya. Dalam tradisi Yahudi kuno maupun dunia Yunani, membasuh kaki adalah tugas paling hina yang hanya dilakukan oleh seorang budak. Kaki adalah bagian tubuh yang paling kotor, penuh debu tanah dan lelahnya perjalanan.

Namun, Yesus melakukannya. Ia memilih menjadi "pelayan."

Ritual pembasuhan kaki atau Mandatum yang dilakukan para pastor dan pendeta pada misa malam ini adalah simbolisasi kuat tentang pengampunan dan pembersihan. Ia adalah sebuah pesan diam namun lantang: bahwa untuk memimpin, seseorang harus berani melayani; dan untuk mencintai, seseorang harus berani merendah.

Meski maknanya satu, dunia mengenalnya dengan berbagai sebutan yang kaya akan nuansa budaya. Di Inggris dan Filipina, sebutan Maundy Thursday secara resmi masuk dalam undang-undang negara. Sementara itu, Gereja Ortodoks Siria menyebutnya dengan nama yang sangat puitis: Thursday of Mysteries atau Kamis Misteri.

Di balik perbedaan istilah tersebut—baik itu Holy Thursday bagi umat Katolik dan Metodis, maupun Covenant Thursday bagi Gereja Koptik—terdapat satu benang merah yang sama. Ini adalah malam perpisahan sekaligus malam penyerahan diri.

Ibadah Kamis Putih sering kali digambarkan sebagai lingkaran cahaya. Dimulai dengan terang penciptaan, masuk ke dalam hangatnya Perjamuan Kudus, dan perlahan menuju kesunyian saat lilin-lilin mulai dipadamkan satu per satu. Ini melambangkan Yesus yang mendekati masa-masa kematian-Nya, dikhianati oleh sahabat dekat, dan ditinggalkan dalam kegelapan.

Namun, di tengah redupnya cahaya itu, pesan "Melayani" tetap benderang. Kamis Putih mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang sering kali memuja ketinggian dan jabatan, ada kekuatan luar biasa dalam tindakan berlutut untuk membasuh kaki sesama.

Melalui roti yang dipecah-pecahkan dan air yang dibasuhkan, Kamis Putih mengajak setiap pribadi untuk pulang ke jati diri manusia yang sejati: menjadi pembawa terang bagi sesama, sekecil apa pun cahaya yang kita miliki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....