Jejak Asap di Dusun Kelapa Tanimbar Kei

  • 27 Jan 2026 07:49 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur - Di tanah Tanimbar Kei, pohon kelapa bukan sekadar tanaman yang menjulang tinggi di pesisir pantai. Ia adalah harta yang diwariskan turun-temurun. Saking melimpahnya, hampir setiap keluarga di sana memiliki dusun kelapa sendiri. Kelimpahan buah kelapa kering inilah yang menjadi alasan bagi pasangan suami istri, Bapak Aviv Rahayaan dan Ibu Silun Manteanubun, untuk tekun mengolah kopra untuk kebutuhan ekonomi mereka.

Bagi yang belum familiar, kopra adalah daging buah kelapa yang dikeringkan. Proses pengeringan ini sangat penting untuk menghasilkan  minyak kelapa yang nantinya digunakan sebagai bahan baku berbagai produk industri, mulai dari minyak goreng hingga kosmetik. Di Tanimbar Kei, membuat kopra adalah cara terbaik untuk memberi nilai tambah pada buah kelapa yang melimpah.

Perjalanan Bapak Aviv dan Ibu Silun dimulai dengan menuju dusun kelapa mereka. Karena dusun tersebut selalu dijaga kebersihannya, Ibu Silun merasa sangat terbantu saat harus memilih kelapa kering yang telah jatuh ke tanah. Kebersihan lahan adalah kunci efisiensi kerja mereka.

Setelah kelapa terkumpul, tahap demi tahap dilakukan secara manual mulai dari Pengupasan, Buah kelapa dikupas untuk diambil dagingnya. Kemudian Pengasapan (Asar) tahapan ini  Daging kelapa kemudian diletakkan di atas para-para , sebuah rak panggung kayu yang sudah disiapkan oleh Bapak Aviv. Di sini proses "asar" atau pengasapan dilakukan selama 3 hingga 4 hari .

Proses Penjemuran dan Pengemasan, Setelah diasapi, kelapa kembali dijemur untuk memastikan kadar airnya rendah sebelum akhirnya dikemas ( packing) ke dalam karung untuk ditimbang.

Menjual kopra adalah perjuangan tersendiri. Ibu Silun menceritakan bahwa mereka harus mengarungi lautan membelah ombak menuju Debut untuk memasarkan hasil bumi mereka. Di sana, kopra dijual dengan harga sekitar Rp14.000 per kilogram . Meski harus berlayar jauh, hasilnya sangat berarti,  uang dari kopra inilah untuk kebutuhan ekonomi dan menyekolahkan anak mereka sejak dulu.

Di balik proses produksi yang melelahkan, tersimpan nilai sosial yang luar biasa di Tanimbar Kei. Budaya saling membantu antar keluarga di sini sangat kental, terutama dalam urusan pendidikan.

Ibu Silun mengisahkan bahwa jika ada seorang anak dari saudara yang ingin kuliah namun orang tuanya sedikit memiliki biaya, maka keluarga lain akan menunjukkan solidaritasnya. Caranya unik, dusun kelapa milik saudara akan diserahkan untuk dikelola oleh orang tua anak tersebut. Hasil olahan kopra dari dusun "pinjaman" itu sepenuhnya digunakan untuk membiayai kuliah anak hingga selesai ini  Sebuah bentuk beasiswa alami berbasis kearifan lokal.

Keluarga Bapak Aviv tidak hanya terletak pada hasil darat. selain mengelola kopra, mereka juga rajin melakukan budidaya rumput laut . Bagi mereka, rumput laut adalah sektor yang sangat menjanjikan untuk memperkuat perekonomian keluarga, sehingga mereka tidak hanya bergantung pada satu sumber penghasilan saja.

Dari kepulauan Tanimbar Kei, keluarga Rahayaan mengajarkan kita bahwa kekayaan alam yang dikelola dengan kerja keras dan semangat gotong royong dapat membuka jalan bagi masa depan generasi penerus.

Rekomendasi Berita