Merawat Eksistensi Kerajinan Leluhur
- 04 Jan 2026 19:11 WIB
- Tual
KBRN, Tual: Mas Adat Banda Ely hingga hari ini masih tegak berdiri, dipertahankan eksistensinya oleh generasi yang sadar akan jati diri dan akar budayanya. Ia bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas hidup yang terus bernapas di tengah arus perubahan zaman. Dari tangan-tangan terampil anak muda, nilai adat diwariskan bukan dengan paksaan, tetapi dengan kesadaran dan kebanggaan.
Pemuda Wandan Bahar Ali Kubangun mengatakan, generasi Banda Ely membuktikan bahwa tradisi tidak harus kaku dan tertinggal. Berbagai inovasi ukiran, motif, dan model Mas Adat kini hadir mengikuti perkembangan zaman, tanpa kehilangan ruh dan makna filosofisnya. Setiap garis ukiran adalah narasi leluhur, setiap bentuk adalah pesan nilai yang dirawat dengan sentuhan kreativitas modern. Inilah cara bijak menyelaraskan warisan adat dengan dinamika zaman.
Lebih jauh, merawat eksistensi kerajinan leluhur menjadi ikhtiar budaya yang bernilai luhur. Kerajinan bukan sekadar produk, melainkan medium pewarisan pengetahuan, sejarah, dan identitas. Ketika generasi muda terlibat langsung dalam proses berkarya, sesungguhnya mereka sedang merawat ingatan kolektif dan menjaga kesinambungan peradaban Banda Ely.
Mas Adat dan kerajinan leluhur menjadi ruang pembelajaran jati diri bagi generasi. Di sanalah nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta tanggung jawab sosial ditanamkan.
“Dari Banda Ely kita belajar bahwa menjaga adat bukan menolak perubahan, melainkan memastikan perubahan tetap berpijak pada nilai luhur, agar identitas tidak larut oleh zaman, tetapi tumbuh sebagai kebanggaan yang menguatkan masa depan,” Ungkapnya.
Dari kerajinan mas lahir generasi wandan dengan berbagai gelar sarjana muda, tentara, polisi, magister dan doktor bahkan lahir haji-hajah lewat kerajinan mas adat.