Melintasi Batas Iman, Jejak Kedamaian di Ohoi Ohoidertawun

  • 31 Okt 2025 17:29 WIB
  •  Tual

KBRN, Langgur: Desa Ohoidertawun, terletak di Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara Provinsi Maluku, untuk bisa sampai ke Ohoi atau desa ini anda dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan jarak tempuh sekitar +13,5 KM dengan memakan waktu 21 menit.

Sesampainya disana, mata anda akan dimanjakan oleh hamparan pasir yang luas dan keindahan pantai yang menakjubkan, disuguhi manisnya air kelapa muda dan keramahan warga desa.

Di Ohoi tersebut, anda akan menemui tiga golongan agama yakni Islam, Kristen Protestan dan Khatolik yang hidup berdampingan dalam satu Ohoi atau desa. Meskipun berbeda keyakinan, namun persaudaraan dan persatuan tetap terjaga hingga sekarang.

Ini menjadi perwujudan dari falsafah Kei, Ain ni Ain (satu memiliki satu) yang berarti pentingnya saling menghormati, menghargai dan bersatu dalam keberagaman untuk menciptakan kehidupan yang harmonis, serta diartikan sebagai wujud dari roh Pancasila.

Banyak sekali cerita manis yang diceritakan oleh pendahulu dan masyarakat di desa tersebut, dimana mereka dapat melintasi batas Iman dengan mengikuti berbagai kegiatan keagamaan kelompok agama lain.

“Masih jelas diingatan dulu itu, Alm. Bapak pernah bercerita kalau semasa beliau SD kira-kira 55 tahun yang lalu, bapak sering terlibat dalam Perayaan Natal Kristus, dengan membawa lilin, kemudian menyanyikan lagu malam kudus, dan menyebutkan Nats bacaan bersama teman-temannya dan itu bukan hanya melibatkan umat Kristiani akan tetapi terdapat umat Muslim juga yang di buat menyatu pada zaman itu,” tutur Albar Rahael selaku Imam Masjid mengenang kisah dari orang tuanya.

Namun, ketika seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, kegiatan serupa tidak lagi dilestarikan akhir-akhir ini bukan tanpa alasan ini diperkuat oleh beberapa kajian dari pemuka-pemuka agama (orang yang ahli agama) bahwa tidak dilarang untuk saling terlibat dalam suatu kegiatan seremonial agama lain, akan tetapi jika satu acara yang diselenggarakan ada ibadah didalamnya, maka sebagai bentuk penghormatan dan menghargai, maka harusnya agama lain tidak terlibat dalam ibadah tersebut.

“Tapi kalau untuk hal yang lain masih seperti biasanya, seperti keseharian tidak ada yang berubah, kita punya event keagamaan basudara Kristen dilibatkan juga dalam kepanitiaan, dan sebaliknya seperti itu,” ucap Rahael sambil menyunggingkan senyum.

“Tapi kalau saya pribadi, biasanya diundang ya hadir tapi kalau ada jalannya ibadah saya keluar sejenak karna menghargai basudara Kristen juga, nanti selepas ibadah baru saya menyesuaikan, bukan apa-apa ini hanya menjaga agar tidak ada asumsi yang berkembang diluaran sana,karena kita harus menyesuaikan pula dengan kondisi saat ini,”sambungnya.

Wujud dari kebersamaan itu masih terus dilestarikan oleh penduduk setempat salah satu contoh lewat gotong royong bahu membahu menyelesaikan penyelesaian tempat ibadah baik Masjid maupun Gereja beberapa waktu lalu. Dan dalam perayaan setiap tahunnya mereka akan saling menjamu satu dengan yang lain tidak secara perorangan akan tetapi secara golongan agama. Dengan menyajikan beragam makanan, dan cemilan disajikan diatas satu meja.

Cukup tau, pada tahun 1999 Provinsi Maluku dilanda konflik sektarian terbesar di Indonesia yang berlangsung selama beberapa tahun hingga sekitar tahun 2002 diawali dengan insiden kecil yang kemudian meluas menjadi kekerasan besar antar kelompok Muslim dan Kristen.

Tentu saja ini mengakibatkan gesekan yang hebat pada saat itu, namun Masyarakat Ohoi Ohoidertawun saat itu membuktikan dan mewujudkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai luhur itu tetap terjaga meskipun konflik hebat antar agama sementra berlangsung di Maluku.

Ini menjadi bukti nyata, keberhasilan Masyarakat desa pada saat itu mempertahankan kedamaian dan harmonisasi antar umat beragama hingga diwariskan ke generasi sekarang.

Sebagai informasi, Ohoi Ohoidertawun terpilih oleh Kementrian Agama RI, sebagai salah satu desa moderasi beragama, ditandai dengan diresmikannya Tugu Moderasi beragama oleh Staf Khusus Mentri Agama Wibowo Prasetiyo di tahun 2023 lalu.

Dengan berdirinya tugu tersebut diharapkan menjadi simbol penting untuk kerukunan antarumat beragama dalam menghadirkan energi baru melalui pengembangan ekosistem moderasi beragama berbasis budaya dan kearifan lokal di Maluku Tenggara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....