Dua Perjalanan Keorganisasian dalam Satu Pengabdian Paripurna

  • 22 Sep 2025 13:45 WIB
  •  Tual

KBRN, Tual: Purnatugas bukan akhir dari perjuangan, melainkan jeda indah untuk merefleksikan jejak yang telah dilalui. Selamat purnatugas kepada Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Tual-Malra, Manasi Uar.

Perjalanan panjangnya dalam dinamika organisasi mahasiswa adalah bukti nyata bahwa kepemimpinan lahir dari tempaan waktu, kebersamaan, dan pengorbanan. Hal ini disampaikan Ketua Umum Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Tual, Bahar Kubangun.

“Seingat saya, perjumpaan awal dengan Manasi terjadi di Ambon, dalam ruang kebersamaan Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Wandan (IPPMAWAN) Pada Periodesasi yang sama yakni 2014-2016 yang di mana pada saat itu, Saya Ketua Umum, dan Anas salah satu Sekertaris Bidang",kata Kubangun.

Dari situ, jalan organisasi membawa kami pada rute yang berbeda, namun tetap paralel dalam semangat pengabdian. Tahun 2017 pertengahan, BK lebih dulu kembali ke Tual dan setahun kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Tual-Malra.

Tak berselang lama, giliran Mas Manasi yang kembali ke Tual dan terpilih sebagai Ketua Umum KAMMI Tual-Malra.

Dua organisasi berbeda, IMM dan KAMMI, namun keduanya memiliki nafas perjuangan yang sama: membina kader muda agar terlatih dalam kepemimpinan, intelektualitas, serta kepekaan sosial.

Demisioner kami bukan hanya sekadar berakhirnya masa jabatan, melainkan penegasan bahwa estafet kepemimpinan telah berjalan dengan baik. Sejarah kecil ini menunjukkan bahwa regenerasi di tubuh organisasi mahasiswa tidak pernah mati, ia terus hidup dalam kaderisasi yang dinamis.

Kini, ketika kami sama-sama menyandang status demisioner, ada rasa syukur sekaligus kebanggaan. Bukan hanya karena pernah diberi amanah memimpin, tetapi juga karena telah menunaikan tanggung jawab itu dengan paripurna. Bahwa setiap keputusan, program, hingga tantangan yang kami hadapi, semuanya menjadi bagian dari proses pembentukan diri dan pengabdian bagi umat, bangsa, dan daerah.

Dalam teori kepemimpinan, John C. Maxwell menegaskan bahwa “seorang pemimpin adalah orang yang tahu jalan, menempuh jalan, dan menunjukkan jalan.” Prinsip ini tercermin dalam perjalanan kami berdua, bahwa amanah kepemimpinan bukan sekadar posisi, melainkan teladan yang menuntun kader dan generasi muda. Senada dengan itu, Ki Hajar Dewantara dalam asas “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” menegaskan bahwa kepemimpinan adalah proses memberi teladan di depan, menggerakkan di tengah, dan mendorong di belakang. Kepemimpinan yang sehat akan melahirkan generasi penerus yang tangguh.

Akhirnya, dua kepemimpinan yang berbeda dalam wadah yang berbeda pula, justru saling melengkapi dalam narasi besar keorganisasian. Inilah bukti bahwa organisasi bukan sekadar ruang aktualisasi, melainkan medan pembelajaran hidup. Dan ketika masa purna tiba, yang tertinggal adalah nilai, jejak, dan inspirasi bagi generasi selanjutnya untuk melanjutkan estafet perjuangan.

Bertepatan tanggal 21 September 2025, Ketua Anas—sapaan akrabnya di KAMMI—telah purna tugas di KAMMI dan akan melanjutkan kepengurusan di PP KAMMI. Semoga amanah baru ini mampu dijalankan dengan penuh integritas, sebagaimana yang dipesankan para ahli bahwa kepemimpinan sejati adalah pelayanan, bukan sekadar kekuasaan.

Semoga jiwa pengkaderan dan ruh keorganisasian selalu hidup dalam perjalanan keorganisasian Ketum, menjadi bekal dalam setiap tapak pengabdian bagi bangsa dan umat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....