Sembuhkan Luka dengan Adat kei

  • 24 Jun 2025 12:46 WIB
  •  Tual

KBRN Langgur: Dalam masyarakat Kei, Maluku Tenggara, insiden penamparan yang merusak tatanan sosial tidak diselesaikan dengan palu hakim, melainkan dengan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Ibu Mariana Elsoin, seorang wanita kei, menjelaskan bagaimana adat Kei mengutamakan pemulihan hubungan dan persaudaraan yang retak melalui serangkaian proses yang sarat makna.

Menurut Ibu Mariana, ketika terjadi insiden penamparan, penyelesaian adat dipusatkan di rumah korban atau rumah keluarga korban. Ini adalah simbol bahwa pihak yang dirugikan dihormati dan proses pemulihan berpusat pada kenyamanan mereka.

Pelaku datang dengan membawa benda penting seperti siri pinang berupa, kain, uang dan gelang adat Kei. Benda ini bukan sekadar tanda minta maaf, melainkan representasi dari niat baik dan keinginan tulus untuk memperbaiki keadaan.

Sebelum penyerahan simbol-simbol tersebut, ada langkah krusial yang harus dilakukan, yakni musyawarah keluarga. Keluarga dari kedua belah pihak, baik pelaku maupun korban, akan duduk bersama.

Dalam momen ini, para tetua akan memberikan nasihat mendalam tentang pentingnya kekeluargaan dan kekerabatan dalam masyarakat Kei. Nasihat ini bertujuan untuk menanamkan kembali kesadaran akan ikatan yang lebih besar di antara mereka, bahwa perselisihan individual tidak boleh merusak keutuhan keluarga.

Setelah nasihat diberikan dan suasana hati lebih tenang, barulah proses inti dimulai. Pelaku dan korban akan berdiri berhadapan, sebuah simbol kesiapan untuk saling memaafkan.

Momen ini diisi dengan permintaan maaf tulus dari pelaku, yang kemudian diikuti dengan pelukan erat antara kedua belah pihak.

Pelukan ini menjadi puncak rekonsiliasi, mencairkan ketegangan dan mengikat kembali benang persaudaraan yang sempat putus. Pada saat berpelukan inilah, siri pinang, kain, dan gelang adat Kei diserahkan.

Siri pinang melambangkan pembuka jalan komunikasi, simbol penghormatan, dan kerendahan hati dalam memohon maaf. Sedangkan Kain berfungsi sebagai penutup luka, simbol pemulihan nama baik dan lembaran baru.

Gelang adat Kei adalah ikatan fisik yang melambangkan janji untuk menjaga hubungan baik, Dan menguatkan kembali tali persaudaraan yang dalam.

Penyelesaian insiden penamparan secara adat Kei ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat memiliki cara yang luar biasa untuk membangun kembali harmoni. Ini bukan sekadar mencari keadilan hukum, melainkan memulihkan martabat, menjaga keutuhan keluarga, dan memastikan bahwa setiap konflik berakhir dengan penguatan kembali ikatan sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....