Budaya Timba Laur, Tradisi Tahunan di Desa Ohoidertom Malra
- 18 Mar 2025 09:03 WIB
- Tual
KBRN, Langgur: Masyarakat Ohoi Ohoidertom , Kecamatan kei Kecil Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, timba Laur, memanfaatkan fenomena alam munculnya cacing laut (laur) secara musiman. Kemunculan ini biasanya terjadi saat kondisi alam tertentu, seperti perubahan fase bulan dan pasang surut air laut, Hal ini menunjukkan kearifan lokal masyarakat dalam membaca dan memanfaatkan siklus alam.
Masyarakat di ohoi tersebut melakukan timba Laur bukan sekadar aktivitas mencari makanan, tetapi juga ajang kebersamaan, dan bahkan masyarakat dari berbagai kalangan, tua muda, laki-laki perempuan, turut serta dalam kegiatan ini , Suasana riang gembira, canda tawa, dan saling sapa mewarnai malam-malam Timba Laur.
Banyak warga biasanya menggunakan perahu cepat milik pribadi bersama keluarga , menuju tempat yang menurut mereka banyak terdapat laur atau cacing laut.
Timba laur ini juga menjadi tempat pertemuan antar masyarakat dari desa lain dan juga dari kota Langgur karena banyak sekali warga yang suka bahkan senang melakukan timba laur di ohoi ohoidertom , karena pantai dikampung ini sedikti berbeda dengan kampung lain karena pemandanganya, hasilnya ,dan depan kampung tersebut banyak terdapat laur atau cacing laut, dan terlihat pemandangan sangat indah ketika warga mulai turun timba laur, dimalam hari.
di kampung ini masyarakat memiliki pengetahuan mendalam tentang waktu dan tempat yang tepat untuk menemukan laur atau cacing laut, mereka menggunaan alat tangkap tradisional yang sederhana, kelambu dijadikan alat tangkap, obor, petromaks memantulkan cahaya dalam gelap di pesisir laur ohoidertom.
sore hari sektar jam 04.00 sampai jam 05.00, satu persatu mulai berbondong - bondong turun ke laut untuk menimba laur dengan membawa perlengkapan, dan bergegas ke tempat tujuan.
penangkapan laur dimulai saat matahari terbenam sampai munculnya bulan purnama, ribuan laur bercorak putih, hijau tua, bahkan merah kecoklatan mulai menari nari bermunculan di permukaan laut, seperti luapan kegembiraan, canda tawa, saling sapa mewarnai malam malam timba laur di pantai ohoidertom.
setelah bulan purnama mulai berumculan laur pun banyak pula bermunculan dan warga lebih bersemangat dalam menimba dengan alat tangkap sederhana, setelah mendapat hasil, masing - masing warga dengan memabawa hasil pulang ke rumah.

Hasil tangkapan laur tidak hanya dinikmati sendiri, akan tetapi juga dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan mereka yang membutuhkan, tradisi ini memperkuat tali persaudaraan dan solidaritas antarwarga, tradisi saling memberi laur ini sudah ada sejak leluhur. Hasil tangkapan laur yang melimpah selalu melakukan aksi berbagi , juga di jual di pasar dengan harga berkisar 10 ribu sampai 15 ribu per mangkok.
Laur diolah menjadi berbagai hidangan lezat, salah satunya dengan daun lafitar, yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner ohoi setempat juga di olah dengan cara menumis dan lain sebagainya sesuai selera warga. proses memasak dan menyantap laur bersama keluarga menjadi momen kebersamaan yang istimewa.
Keunikan tradisi Timba Laur berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya yang menarik bagi wisatawan, wisatawan dapat merasakan langsung pengalaman mencari laur bersama masyarakat setempat dan menikmati keindahan alam Maluku tenggara
Budaya Timba Laur adalah warisan budaya yang berharga dan perlu dilestarikan. Tradisi ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial budaya masyarakat Maluku.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....