Jejak Suku Makasar Di Desa Namtabung

  • 24 Feb 2025 17:38 WIB
  •  Tual

KBRN, Tual: Pemberian nama suatu tempat biasanya dilakukan berdasarkan peristiwa yang terjadi di daerah atau tempat tersebut. Sama halnya dengan sebuah lokasi pantai di Desa Namtabung, Kecamatan Selaru Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Lokasi sekitar pantai yang ada sumur tuanya itu oleh masyarakat Namtabung, diberi nama Wermanasar. Dalam Bahasa Selaru, Wer artinya air dan Manasar artinya Makasar. Dengan demikian maka secara harfiah, orang akan mengartikan Wermanasar sebagai air Makasar. Namun makna sesungguhnya dari Wermanasar disini adalah Sumur atau Perigi orang Makasar .

Peristiwa ini bermula ditahun 1918. Kala itu ada sebuah perahu Pinisi asal Makasar yang melakukan pelayaran ke Tanimbar. Tiba di perairan sekitar desa Namtabung, tiang layar mereka patah sehingga mereka memilih untuk singgah dan memperbaiki tiang perehau mereka di desa Namtabung.

Pasa zaman itu ternak masyarakat (Babi) masih dibiarkan bebas berkeliaran dalam desa sehingga orang – orang Makasar yang adalah pemeluk agama islam itu enggan untuk masuk ke dalam desa untuk mengambil air bagi keperluan masak dan mandi di perahu mereka.

Orang – orang Makasar ini kemudian oleh warga masyarakat desa Namtabung, diizinkan menggali sumur di pantai untuk keperluan makan, minum dan mandi mereka. Sejak saat itu, sumur yang digali oleh orang – orang Makasar tersebut oleh warga desa Namtabung disebut sebagai Wermanasar yang artinya sumur atau perigi orang Makasar.

Agar cerita tentang Wermanasar ini tetap lestari dan memjadi bukti sejarah, maka beberapa tahun lalu sumur itu di pugar warga Namtabung. Selama beberapa bulan di situ, mereka menjalin pertemanan dengan orang – orang desa Namtabung.

La Onso, salah satu awak perahu pinisi tersebut berteman dengan Siwanama warga desa Namtabung. Setelah mereka berhasil memperbaiki tiang perahu yang patah dan hendak melanjutkan pelayaran, La Onso melihat istri temannya sementara mengandung.

La Onso kemudian berpesan kepada Siwanama bahwa untuk selalu mengingat pertemanan mereka maka ketika istrinya melahirkan nanti dan anaknya laki laki maka harus diberi nama La Onso. Begitu pula sebaliknya Ketika La Onso Kembali ke Makasar dan punya anak laki – laki maka akan diberi nama Siwanama.

Tiba saatnya istri Siwanama melahirkan, maka anak laki – lakinya itu di beri nama La Onso seperti permintaan temannya agar pertemanan mereka selalu dikenang.

Singkat cerita La Onso beranjak dewasa kemudian menikah dan memiliki keluarga. Untuk terus mengingat dan mengenang sahabat ayahnya itu, maka nama La Onso Kemudian diturunkan lagi kepada cucu laki – laki tertuanya yang saat ini ada di ada di Namtabung.

Rudy Rangkoratat, anak dari almarhum La Onso menuturkan bahwa ayahnya selalu berharap suatu saat keturunan dari dua sahabat ini bertemu dan bisa menjalin persahabatan seperti leluhur mereka kala itu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....