Kisah Penjual Bendera yang Konsisten Rawat Tradisi Kemerdekaan

  • 13 Agt 2026 07:56 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Tual - Kisah penjual bendera musiman merupakan simbol nyata dari kegigihan masyarakat dalam menjaga tradisi perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di tengah tantangan zaman dan gempuran digitalisasi. Setiap menjelang bulan Agustus, kehadiran mereka di berbagai sudut jalan pasar tidak hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga merawat nuansa nasionalisme agar tetap hidup di ruang publik.

Bertahan di Tengah Penurunan Animo Pembeli salah satu penjual bendera di pasar kota tual, Lamuane mengatakan dengan persaingan pasar yang dihadapi saat ini memang menjadi tantangan besar juga bagi penjual bendera musima, Beberapa tahun terakhir para pedagang merasakan adanya tren penurunan penjualan. Hal ini dikarenakan masyarakat atau instansi lebih memilih memakai bendera lama yang masih layak pakai. tetapi kami tetap berjualan karena momen sejarah di bulan agustus ini ada rejeki yang di dapatkan walaupun sedikit.

"Penjual bendera merah putih mulai dari umbul-umbul maupun benedera hias lainnya tidak hanya di jual pada lokasi asar tetapi juga di jajakan pada trotoar maupun area publik di kota tual, sehingga terjadi penurunan animo masyarakat, bahkan menurut masyarakat yang sempat ditanya saat berkunjung ke tempatnya bahwa bendera yang di beli di tempatku masih layak untuk di pakai." ujarnya kepada rri.co.id, Rabu (12/8/2026)

Penurunan animo pembeli di pasar tual ini dipicu oleh beberapa faktor. Mulai dari pergeseran tren belanja masyarakat ke pasar modern dan digital atau online, mungkin juga karena efisiensi anggaran sehingga menyebabkan animo masyarakat atau instansi di daerah ini juga kurang untuk membeli aksesoris 17 an (hari Kemerdekaan RI) di tahun ini.

Kendati dihantam sepi pembeli, para pedagang menolak menyerah. Alih-alih gulung tikar, mereka memilih bertahan dengan berbagai cara kreativitas lokal. Sebagian pedagang mulai menerapkan sistem jemput bola, mereka mendekati area publik yang berdekatan dengan pemukiman warga, tidak lagi sekadar diam menunggu di titik kumpul pasar. Tantangan yang dihadapi para penjual bendera musiman saat ini tidaklah mudah. Maraknya platform belanja daring (online) serta kondisi ekonomi yang dinamis membuat omzet penjualan konvensional di pinggir jalan cenderung fluktuatif dan menantang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Meski pembeli tidak seramai dulu, semangat Lamuane tidak luntur. Baginya, melihat bendera-bendera baru terpasang rapi di rumah-rumah warga atau kendaraan yang melintas sudah memberikan kepuasan batin tersendiri. Itu adalah tanda bahwa api patriotisme di masyarakat masih menyala.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....