Cara Jitu Mengendalikan Hasrat Konsumtif di Era Digital

  • 29 Jun 2026 09:00 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, LANGGUR – Di tengah gempuran iklan digital, algoritma media sosial yang tahu betul kelemahan kita, dan fitur paylater yang sangat memudahkan transaksi, menahan diri untuk tidak belanja menjadi tantangan yang sangat berat. Dorongan konsumtif sering kali datang bukan karena kita butuh, melainkan karena dipicu oleh emosi—entah itu stres, bosan, atau sekadar gengsi (FOMO).

Jika Anda merasa tabungan selalu menipis akibat belanja impulsif, berikut adalah beberapa tips psikologis dan praktis, dikutip dari Glowbooks "Uang Melahirkan Uang" yang dapat diterapkan untuk melawan dorongan konsumtif tersebut.

  1. Terapkan Aturan 24 Jam atau 30 Hari
    Saat melihat barang yang sangat Anda inginkan secara online atau di toko, jangan langsung membelinya. Masukkan ke dalam keranjang atau catat di ponsel, lalu tunggulah selama 24 jam (untuk barang murah) atau 30 hari (untuk barang yang cukup mahal).
    Mengapa ini berhasil? Jeda waktu ini akan menurunkan hormon dopamin (hormon kesenangan) yang melonjak saat Anda pertama kali melihat barang tersebut. Sering kali, setelah beberapa hari, Anda akan menyadari bahwa Anda sebenarnya tidak terlalu menginginkan barang itu.
  2. Hitung Harga Barang dengan "Jam Kerja" Anda
    Ubah cara Anda melihat label harga. Jika Anda ingin membeli sepatu seharga Rp1.000.000, jangan lihat angkanya, tetapi hitung berapa jam Anda harus bekerja keras untuk mendapatkan uang sejumlah itu. Misalnya, gaji bersih Anda setelah dibagi waktu kerja adalah Rp50.000 per jam. Artinya, sepatu seharga Rp1.000.000 itu setara dengan 20 jam kerja Anda. Tanyakan pada diri sendiri "Apakah sepatu ini sepadan dengan sisa lelah saya bekerja selama dua hari penuh?"
  3. Atur Strategi "Ganjalan" di Ponsel Anda karena kemudahan transaksi adalah sahabat terbaik sifat konsumtif. Oleh karena itu, buatlah transaksi menjadi sesulit mungkin (friction). Antara lain:

    a. Hapus Data Kartu:Langkah Utama.

    b. Hapus semua data kartu kredit, debit, atau e-wallet yang tersimpan otomatis di aplikasi belanja digital.

    c. Matikan Fitur Sekali Klik:Hambat Impulsivitas.

    d. Matikan fitur One-Click Payment atau Biometric Login (sidik jari/wajah) untuk pembayaran.

    c. Gunakan Password Rumit:Beri Waktu Berpikir.

    d. Buat password akun belanja Anda menjadi panjang dan rumit. Keharusan untuk mengetik ulang password dan mencari dompet untuk melihat nomor kartu akan memberi otak Anda waktu ekstra untuk berpikir jernih dan membatalkan niat belanja.

    e. Kenali Pemicu Emosional Anda (Emotional Spending)

    Banyak orang belanja bukan karena butuh barangnya, tetapi butuh "hiburan" untuk mengalihkan emosi negatif. Apakah Anda sering belanja saat stres kerja? Saat kesepian? Atau saat sedang bosan di malam hari?

    f. Jika Anda sudah tahu pemicunya, ganti kegiatan belanja dengan alternatif gratis yang juga menghasilkan dopamin positif, seperti berolahraga, mandi air hangat, menonton film favorit, atau membersihkan kamar.

    g. Lakukan Unfollow dan Unsubscribe masal

    Jangan menguji iman finansial Anda secara sukarela. Jika Anda terus-menerus melihat influencer melakukan haul belanja atau membuka email promosi diskon setiap hari, Anda pasti akan jebol.

Melawan sifat konsumtif bukanlah tentang menyiksa diri atau hidup super pelit. Ini adalah tentang mengambil alih kendali atas uang Anda, sehingga Anda bisa mengalokasikannya untuk hal-hal yang benar-benar bernilai jangka panjang, seperti dana darurat, investasi, atau pengalaman hidup yang bermakna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....