Festival Wer Warat Tegaskan Pelestarian Budaya Lokal Kei
- 27 Okt 2025 10:33 WIB
- Tual
KBRN, Langgur: Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun, menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi Wer Warat (Hela Tali). Tradisi ini menjadi bagian utama Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2025 yang digelar di Pantai Hoar, Ohoi Danar Sare, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Minggu (26/10/2025).
Menurut Thaher, meskipun FPMK tahun ini digelar secara sederhana, semangat masyarakat Kei untuk mempertahankan tradisi leluhur tetap luar biasa. Pelestarian Wer Warat bukan hanya bentuk kebanggaan terhadap identitas budaya, tetapi juga tanggung jawab moral seluruh masyarakat untuk menjaga diwariskan leluhur.
Tradisi Wer Warat menggambarkan kekompakan masyarakat dalam menangkap ikan menggunakan tali panjang yang dililit daun kelapa. Tali tersebut dibentangkan di laut lalu ditarik perlahan ke pantai untuk menggiring ikan ke jaring dan dilakukan dengan penuh koordinasi serta kebersamaan.
“Walaupun Festival Pesona Meti Kei tahun ini digelar secara sederhana, namun nilai-nilai kearifan lokal seperti Wer Warat tetap dijaga dan dilestarikan. Saya berharap masyarakat dapat mempertahankan tradisi ini sebagai warisan budaya yang membanggakan,” ujar Bupati Thaher.
Lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan, Wer Warat mengandung makna filosofis tentang kebersamaan, tanggung jawab sosial, dan pelestarian alam laut. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam.
Persiapan Wer Warat dilakukan sejak pagi dengan membuat tali sepanjang 150 hingga 200 meter dari anyaman janur kelapa. Sebelum prosesi dimulai, tokoh adat dan tokoh agama memimpin doa bersama memohon keselamatan dan hasil laut yang melimpah.
/xynt0wybwysopez.jpeg)
Pelaksanaan tradisi Wer Warat tahun ini turut menarik perhatian para tamu undangan, termasuk sejumlah anggota DPR RI yang hadir dalam rangkaian Festival Pesona Meti Kei 2025. Mereka memberikan apresiasi atas semangat masyarakat Kei dalam melestarikan warisan budaya yang sarat makna kebersamaan dan kearifan lokal.
“Wer Warat adalah tradisi leluhur yang menjadi kebanggaan kita bersama. Kalau bukan kita yang melestarikan dan mempromosikannya, siapa lagi?” kata Anggota Komisi III DPR RI, Widya Pratiwi.
Prosesi Wer Warat juga diiringi pantangan adat, termasuk larangan bagi perempuan menginjak tepi pantai selama upacara berlangsung. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai sakral peninggalan leluhur.
Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, turut memberikan apresiasi terhadap semangat masyarakat Kei dalam menjaga budaya lokal. Kesederhanaan festival tidak mengurangi makna dan keindahan tradisi yang dijalankan.
“Kami bangga bisa menyaksikan langsung tradisi ini. Ini menjadi kenangan berharga bagi kami di Senayan, dan kami akan menceritakan keindahan budaya Wer Warat kepada masyarakat luas,” ujar Saadiah Uluputty.
Festival Pesona Meti Kei 2025 menjadi wujud nyata komitmen masyarakat Kei dalam menjaga warisan leluhur. Semangat gotong royong yang tercermin dalam tradisi Wer Warat menegaskan budaya lokal tetap hidup di tengah arus modernitas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....