Kepulauan Kei Berpeluang Jadi Pusat Ekspor Perikanan Maluku-Papua

  • 17 Sep 2026 13:46 WIB
  •  Langgur

RRI.CO.ID, Langgur – Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Tual Dr. Usman Madubun mendorong Kepulauan Kei dikembangkan sebagai fisheries export hub atau pusat ekspor produk perikanan bagi kawasan selatan Maluku dan Papua. Gagasan tersebut diarahkan untuk memperpendek rantai distribusi dan membuat nilai ekonomi hasil perikanan lebih banyak berputar di daerah penghasil.

Usman mengatakan, Maluku memiliki sumber daya perikanan yang besar karena berada dalam cakupan sejumlah Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). Di antaranya WPPNRI 715 yang mencakup Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram dan Teluk Berau, serta WPPNRI 718 yang mencakup Laut Aru, Laut Arafura dan Laut Timor bagian Timur.

“Pusat produksinya memang berada di kita, tetapi pusat penjualannya tidak berada di kita. Adanya di wilayah Indonesia Tengah dan Indonesia Barat,” kata Usman dalam Forum Konsultasi Publik Strategi Mendorong Tata Kelola Logistik dan Peluang Ekspor Produk Perikanan dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi di Wilayah Maluku, di Aula KPPN Tual, Rabu (16/9/2026).

Menurut Usman, kondisi tersebut membuat besarnya potensi perikanan belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi bagi nelayan dan masyarakat Maluku. Hasil tangkapan dari wilayah kepulauan harus melewati rantai perdagangan dan distribusi yang panjang sebelum mencapai pasar yang lebih besar.

Karena itu, Kepulauan Kei dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi titik konsolidasi hasil perikanan dari Maluku hingga Papua bagian selatan. Produk dari berbagai daerah dapat dikumpulkan di Pulau Kei sebelum diproses dan diarahkan ke pasar ekspor.

“Cita-cita saya, Kepulauan Kei itu akan menjadi fisheries export hub untuk kawasan-kawasan Maluku dan Papua,” ujarnya.

Usman menyebut potensi yang dapat dikonsolidasikan tidak hanya ikan, tetapi juga udang, lobster, kepiting, ikan karang dan rumput laut. Keragaman komoditas tersebut menjadi modal untuk membangun volume dan kontinuitas pasokan yang dibutuhkan pasar ekspor.

Namun, menjadikan Kepulauan Kei sebagai pusat ekspor perikanan membutuhkan dukungan konektivitas antarpulau, sarana penyimpanan, kapal pengangkut, serta fasilitas pengolahan. Tanpa dukungan tersebut, hasil perikanan dari pulau-pulau kecil tetap menghadapi biaya distribusi yang tinggi.

Usman juga mendorong ekspor dilakukan langsung dari Kepulauan Kei ketika volume, kualitas dan persyaratan pasar sudah terpenuhi. Dengan pola tersebut, daerah penghasil tidak hanya menjadi sumber bahan baku, tetapi juga memperoleh bagian yang lebih besar dari aktivitas perdagangan dan pengolahan.

Gagasan tersebut membutuhkan kerja bersama pemerintah, pelaku usaha dan pemangku kepentingan untuk menentukan kebutuhan infrastruktur, armada, fasilitas pengolahan dan jalur perdagangan. Penguatan seluruh mata rantai tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan Kepulauan Kei sebagai pusat kegiatan ekonomi maritim di kawasan selatan Maluku dan Papua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....