Warga Minta Sosialisasi Tak Terjebak Jualan Terselubung

  • 25 Agt 2025 14:37 WIB
  •  Tual

KBRN, Langgur : Suasana khidmat Ibadah Minggu di Gedung Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (MILOS), Kecamatan Tanimbar Selatan, terasa berbeda, Sabtu (23/8/2025).

Di antara doa dan pujian jemaat, hadir pula sebuah agenda tambahan: sosialisasi kanker dan tumor yang digelar oleh Yayasan Sosialisasi Kanker Indonesia (YSKI).

Dengan membawa visi meningkatkan kesadaran akan bahaya kanker, YSKI memperkenalkan pesan tentang deteksi dini dan pola hidup sehat. Namun, bukan itu saja.

Yayasan juga menawarkan produk herbal bernama Zedomax, dengan iming-iming potongan harga hingga 50 persen.

Sejumlah jemaat menyambut hangat penyuluhan ini. “Saya baru tahu betapa pentingnya deteksi dini kanker,” tutur Jk, salah seorang peserta.

Ia mengaku bersyukur bisa mendapat pengetahuan baru sekaligus kesempatan membeli produk herbal dengan harga terjangkau.

Namun, tak semua peserta merasa demikian. Beberapa jemaat lain memilih untuk berhati-hati. “Saya lebih baik konsultasi dulu ke dokter sebelum mencoba produk ini,” ujar seorang jemaat yang meminta namanya dirahasiakan.

Keragaman tanggapan ini menggambarkan dilema: di satu sisi, sosialisasi kesehatan memberi pencerahan; di sisi lain, promosi produk di ruang ibadah menimbulkan pertanyaan tentang etika dan batasan.

Produk yang ditawarkan, Zedomax, memang telah terdaftar di BPOM RI (TR183317051). Komposisinya meliputi temu putih, keladi tikus, dan benalu teh - bahan herbal yang sering disebut berkhasiat antioksidan dan anti-inflamasi.

Di brosur, klaimnya terdengar meyakinkan: membantu memelihara kesehatan, termasuk bagi penderita kanker, tumor, gastritis, sinusitis, hingga nyeri sendi.

Tetapi, hingga kini belum ada penelitian ilmiah peer-reviewed yang membuktikan efektivitasnya dalam mengobati kanker.

Ditegaskan Jemaat, "Herbal seperti ini bisa saja bermanfaat, tetapi jangan sampai jemaat berpikir ini bisa menggantikan kemoterapi atau operasi. Itu berbahaya.”

Fenomena semacam ini membuka diskusi yang lebih luas. Penyuluhan kanker jelas penting dan mendesak, terutama di daerah-daerah yang akses informasinya terbatas. Namun, ketika edukasi bercampur dengan promosi produk, publik bisa menerima pesan yang tak seimbang.

BPOM sendiri menegaskan bahwa obat tradisional hanya boleh diklaim sebagai pemelihara kesehatan, bukan penyembuh penyakit berat seperti kanker. Di sinilah letak pentingnya transparansi.

“Edukasi kesehatan harus tetap berdiri di garis depan. Produk herbal boleh ditawarkan, asal jelas, terbuka, dan tidak menyesatkan,” ungkap seorang jemaat lain yang berharap kegiatan serupa bisa lebih akuntabel.

Sosialisasi kanker oleh YSKI di Saumlaki menjadi potret nyata bagaimana semangat edukasi bisa beriringan dengan promosi produk. Kehadiran Zedomax memberi opsi tambahan, meski efektivitas klinisnya masih memerlukan kajian lebih jauh.

Bagi masyarakat, pesan utamanya jelas: jangan mudah terjebak pada klaim instan. Herbal dapat menjadi pendukung, namun bukan pengganti terapi medis. Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetaplah menjadi langkah utama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....