Dari Rak Berdebu ke Ruang Belajar, Mahasiswa UGM Revitalisasi Perpustakaan Desa

  • 17 Jul 2026 20:06 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur – Tumpukan buku yang berdebu, rak yang tak lagi tertata, dan ruangan yang jarang dikunjungi pernah menjadi pemandangan sehari-hari di Perpustakaan Ohoi Elaar Lamagorang, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara. Kini, perpustakaan itu perlahan kembali hidup setelah direvitalisasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama warga setempat.

Selama dua pekan, sejak 8 hingga 15 Agustus 2026, mahasiswa dan masyarakat bergotong royong mengubah wajah perpustakaan desa tersebut. Mereka membersihkan ruangan, menata ulang koleksi buku, serta memperbaiki berbagai fasilitas yang sebelumnya tidak lagi terawat.

Bagi warga Ohoi Elaar Lamagorang, perpustakaan bukan sekadar bangunan yang menyimpan buku. Tempat itu pernah menjadi ruang belajar, tempat anak-anak mencari pengetahuan, dan wadah masyarakat memperluas wawasan.

Namun, seiring pergantian pengurus, aktivitas perpustakaan perlahan meredup. Koleksi buku yang ada tidak lagi tertata, sementara bangunan dan sarana pendukungnya mulai kehilangan fungsi sebagai pusat literasi masyarakat.

Kondisi itulah yang ditemukan mahasiswa KKN-PPM UGM saat melakukan observasi di desa tersebut. Dari hasil pengamatan itu, lahirlah gagasan untuk menghidupkan kembali perpustakaan agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Penanggung jawab program revitalisasi, Muammar Ma'ruf Shidqi, mengatakan perpustakaan memiliki peran penting dalam membangun budaya membaca dan belajar di tengah masyarakat. Karena itu, keberadaannya perlu dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

“Perpustakaan ini sebelumnya memiliki peran penting sebagai fasilitas belajar masyarakat. Karena itu, kami berupaya menghidupkan kembali fungsinya agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh warga, terutama anak-anak,” ujarnya.

Revitalisasi tidak dikerjakan mahasiswa semata. Lebih dari 20 warga bersama golongan muda Ohoi Elaar Lamagorang terlibat langsung dalam setiap tahap pekerjaan, mulai dari pembersihan hingga penataan ruang.

Keterlibatan masyarakat menjadi warna tersendiri dalam program tersebut. Semangat gotong royong yang ditunjukkan warga mencerminkan kepedulian bersama terhadap masa depan pendidikan dan literasi di desa.

Dukungan juga datang dari Pacific Paint yang membantu pelaksanaan program. Kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan pihak swasta menjadi contoh bagaimana pembangunan fasilitas pendidikan dapat dilakukan secara bersama-sama.

Bagi Muammar, keberhasilan revitalisasi tidak hanya diukur dari perubahan fisik bangunan. Yang lebih penting adalah bagaimana perpustakaan dapat kembali menjadi ruang yang hidup dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Saya berharap perpustakaan ini dapat kembali dimanfaatkan sebagai ruang bersama bagi anak-anak maupun masyarakat untuk membaca, belajar, berdiskusi, dan melakukan berbagai kegiatan produktif lainnya,” katanya.

Harapan itu kini mulai terlihat. Rak-rak buku kembali tertata, ruang baca menjadi lebih nyaman, dan perpustakaan kembali membuka peluang bagi anak-anak untuk mengenal dunia melalui halaman-halaman buku.

Di Ohoi Elaar Lamagorang, revitalisasi perpustakaan bukan sekadar memperbaiki sebuah bangunan. Upaya itu menjadi ikhtiar bersama untuk menghidupkan kembali budaya membaca, memperluas akses pengetahuan, dan memastikan ruang belajar tetap hadir bagi generasi yang akan datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....