Kenaikan Harga Elpiji Bebani Pedagang Makanan, Harga Jual Terpaksa Naik

  • 26 Jun 2026 16:26 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Tual - Kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi turut dirasakan para pelaku usaha kuliner. Meningkatnya biaya operasional membuat sejumlah pedagang harus mencari cara agar usaha tetap berjalan, salah satunya dengan menyesuaikan harga jual makanan.

Salah seorang pedagang makanan, Zulaikha kepada rri.co.id (26/06/2026), mengaku resah dengan kenaikan harga gas elpiji karena berdampak langsung terhadap pengeluaran usahanya. Ia mengatakan, anggaran yang sebelumnya sekitar Rp1,2 juta per bulan untuk membeli gas kini meningkat menjadi sekitar Rp1,6 juta per bulan.

"1 minggu itu yang 12 kilo satu tabung, sebelum naik 300an sekarang 400. Bagaimana kalo bisa diturunkan biar ga terlalu berat. Yo otomatis jualan kita naikkan, kalo ndak begitu kita ga dapat untung, setiap porsi lnya kita naikkan 5000. Ini 1 bulan kan 4 tabung belum biaya ojeknya", kata Zulaikha.

Akibat tingginya biaya operasional tersebut, Zulaikha terpaksa menaikkan harga dagangannya sebesar Rp5.000 per item. Keputusan itu diambil agar usahanya tetap dapat bertahan, meski ia menyadari kenaikan harga berpotensi mengurangi minat beli pelanggan.

Zulaikha mengungkapkan, dalam satu minggu usahanya menghabiskan satu tabung gas elpiji 12 kilogram untuk kebutuhan memasak. Menurutnya, kondisi saat ini cukup berat karena keuntungan yang diperoleh semakin menipis, sehingga ia berharap harga gas elpiji dapat kembali stabil agar pelaku usaha kecil tidak terus terbebani.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....