Pattimura: Sang Kapitan yang Menolak Tunduk di Bawah Langit Maluku
- 14 Mei 2026 13:09 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - Di balik lembaran uang seribu rupiah yang lama, sosoknya tampak tenang dengan parang dan salawaku. Namun, sejarah mencatat bahwa Thomas Matulessy, yang lebih dikenal sebagai Kapitan Pattimura, adalah badai yang mengguncang supremasi Belanda di tanah Maluku pada abad ke-19.
Dilansir dari berbagai sumber, lahir di Negeri Haria, Saparua, pada tahun 1783, Pattimura bukanlah orang asing dalam dunia militer. Sebelum melawan Belanda, ia adalah seorang sersan di militer Inggris. Pengalaman inilah yang membentuk taktik perangnya yang brilian—sebuah perpaduan antara disiplin militer Eropa dan keberanian lokal yang membara.
Saat Belanda kembali berkuasa di Maluku pada 1816 setelah masa transisi dari Inggris, kebijakan mereka membawa penderitaan: Kerja paksa yang memeras keringat rakyat, Monopoli cengkih yang mencekik ekonomi lokal, Penindasan terhadap hak-hak dasar penduduk Maluku.
Puncak dari kemarahan rakyat meletus pada 15 Mei 1817. Di bawah kepemimpinan Pattimura, rakyat Saparua mengepung Benteng Duurstede. Dalam serangan yang terorganisir dengan rapi, benteng tersebut jatuh ke tangan pejuang Maluku. Residen Van den Berg tewas dalam pertempuran itu—sebuah tamparan keras bagi wibawa kolonial di Timur.
Pattimura membuktikan bahwa ia bukan sekadar pemimpin gerilya, melainkan seorang diplomat. Ia berhasil menyatukan raja-raja dan rakyat dari berbagai pulau—Saparua, Hitu, Nusalaut, hingga Haruku—untuk berdiri di bawah satu panji perlawanan.
Namun, pengkhianatan dan keunggulan teknologi militer Belanda akhirnya mempersempit ruang gerak sang Kapitan. Pada November 1817, Pattimura ditangkap karena pengkhianatan dari dalam lingkaran terdekatnya.
Pemerintah Belanda sempat menawarkan pengampunan dan kerja sama, namun Pattimura memilih jalan yang lebih sulit: Kematian di tiang gantungan.
"Pattimura-pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-pattimura muda akan bangkit!" demikian Pesan terakhir Pattimura sebelum dieksekusi pada 16 Desember 1817.
Pattimura dieksekusi di depan Benteng Victoria, Ambon. Meski raga sang Kapitan telah tiada, ramalannya terbukti benar. Semangat perlawanannya menjadi inspirasi bagi generasi pejuang selanjutnya untuk memerdekakan Indonesia.
Kini, Pattimura bukan lagi sekadar nama bandara atau universitas. Ia adalah pengingat bahwa di tanah yang paling harum karena rempahnya, pernah lahir seorang lelaki yang harga dirinya tidak bisa dibeli oleh emas maupun jabatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....