Mengenal Penjahit Merah Putih pada Detik-Detik Kemerdekaan
- 16 Apr 2026 12:21 WIB
- Tual
RRI.CO.ID,Langgur: Nama Fatmawati Soekarno bukan sekadar tercatat dalam buku sejarah, tetapi terpatri kuat dalam denyut lahirnya bangsa Indonesia. Ia bukan hanya istri Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, melainkan sosok perempuan tangguh yang mengambil peran sunyi namun menentukan pada saat-saat paling genting menjelang kemerdekaan.
Lahir di Bengkulu pada 5 Februari 1923, Fatmawati tumbuh sebagai perempuan berkepribadian kuat memiliki keteguhan prinsip dan keberanian yang bahkan tak mudah digoyahkan.Perannya dalam sejarah Indonesia menjadi bukti bahwa perjuangan tidak selalu hadir di medan perang, kadang ia lahir dari sehelai kain, jarum, dan benang.
| Baca juga: Yuk Mengenal koi, Spesies Ikan yang Cantik |
Menjelang 17 Agustus 1945, di tengah kesibukan para tokoh bangsa mempersiapkan pembacaan teks Proklamasi, Fatmawati mendengar satu hal yang mengusik pikirannya, yaitu Indonesia belum memiliki bendera negara. Tanpa banyak bicara, ia mengambil inisiatif. Bukan perintah, bukan pula perencanaan resmi, melainkan dorongan hati seorang perempuan yang mencintai bangsanya.
Di ruang makan rumah Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Fatmawati mulai menjahit kain merah dan putih menjadi sebuah bendera berukuran 2 x 3 meter. Semua dilakukan secara manual menggunakan mesin jahit Singer yang digerakkan dengan tangan. Yang jarang diketahui, saat itu Fatmawati tengah mengandung. Kondisi fisik yang terbatas tak menyurutkan tekadnya. Dua hari penuh ia menyelesaikan jahitan tersebut, dengan harapan sederhana namun agung: agar bendera itu kelak berkibar sebagai simbol kemerdekaan bangsa.
Harapan itu terwujud. Pada pagi 17 Agustus 1945, Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan, mengiringi berkumandangnya lagu Indonesia Raya karya W.R. Supratman. Sejak saat itu, bendera hasil jahitan tangan Fatmawati menjadi saksi sejarah dan digunakan dalam berbagai upacara kenegaraan, hingga akhirnya disimpan sebagai Bendera Pusaka demi menjaga keutuhannya.
Fatmawati wafat pada 14 Mei 1980 di Kuala Lumpur, Malaysia, dalam usia 57 tahun, akibat serangan jantung setelah menunaikan ibadah umrah. Ia dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Meski telah tiada, jasanya tetap hidup dalam setiap kibaran Merah Putih.
Untuk mengenang pengabdian dan keteladanannya, pemerintah membangun Monumen Pahlawan Nasional Ibu Agung Hj. Fatmawati Soekarno di Bundaran Simpang Lima, Kota Bengkulu. Monumen tersebut diresmikan Presiden Joko Widodo pada 5 Februari 2020, bertepatan dengan hari kelahiran Fatmawati.
Fatmawati telah membuktikan bahwa sejarah besar sering lahir dari tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Dari jahitan sederhana itulah, Merah Putih berkibar, dan Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....