Cuaca Ekstrim yang Melanda Kepulauan Kei Dipicu Anomali Cuaca

  • 09 Mar 2026 18:48 WIB
  •  Tual

RRI.CO.ID, Langgur - Dari hasil analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maluku Tenggara, kondisi cuaca ekstrim yang melanda Kepulauan Kei dipicu anomali cuaca berupa aktifitas tiga bibit siklon tropis yang aktif di wilayah selatan Indonesia dan Benua Australia. Prakirawan BMKG Maluku Tenggara, Putra Ramadhan, kepada rri.co.id Senin (9/3/2026) pagi menjelaskan, aktifitas anomali cuaca yang aktif menimbulkan tiupan angin kencang disertai hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Tiupan angin di Kepulauan Kei saat ini kata Putra, berkisar antara 18-20 knot atau 36-40 kilometer per jam, serta mempengaruhi tinggi gelombang laut hingga 2,5 meter atau kategori sedang. Selain Kepulauan Kei, bibit siklon tropis juga terjadi hingga wilayah Kabupaten Kepulauan Aru.

Putra menambahkan, angin kencang yang dihasilkan bibit siklon tropis biasanya berlangsung singkat dengan durasi antara 10-15 menit atau terjadi sesaat, dan akan terjadi secara tidak menentu. Selain itu, peningkatan curah hujan dipengaruhi adanya awan konvektif yang identik dengan fenomena ini.

“Ada anomali cuaca berupa siklon tropis di wilayah selatan Indonesia yang dampaknya mengakibatkan angin kencang di berbagai wilayah sekitar, siklon tropisnya salah satunya ada di dekat Benua Australia dan satu lagi bergerak mengarah ke wilayah kepulauan selatan NTT,” kata Putra.

Anomali cuaca yang terjadi kata Putra, juga dipengaruhi posisi Kepulauan Kei yang secara geografis berdekatan dengan Australia Utara yang membuatnya sangat sensitif terhadap perbedaan tekanan udara.

Sesuai hasil analisa, kondisi ini akan berlangsung hingga satu pekan kedepan. Pihaknyapun telah menyampaikan hasil analisis ini ke pihak terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Perhubungan hingga Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) agar dapat ditindaklanjuti.

Sementara itu pantauan rri.co.id hingga Senin sore, cuaca ekstrim yang terjadi juga berdampak terhadap aktifitas masyarakat, baik aktifitas di laut maupun di darat. Sebagian besar masyarakat memilih tetap berada di rumah karena khawatir akan terkena dampak dari fenomena ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....