Kelangkaan Minyak Tanah, Disperindag Malra Janji Tambah Kuota
- 02 Mar 2026 05:27 WIB
- Tual
RRI.CO.ID, Langgur - Kelangkaan minyak tanah kembali dikeluhkan warga Kabupaten Maluku Tenggara jelang hari besar keagamaan, kelangkaan ini memicu kecurigaan publik terhadap pola distribusi yang dinilai tidak tepat sasaran. Aduan itu disampaikan seorang warga Langgur, Clara, dalam program Halo RRI edisi, Senin (2/3/2026).
Clara mengaku mendapati stok minyak tanah di agen telah habis hanya sekitar satu jam setelah mobil tangki melakukan pengisian. Ia menduga minyak tanah lebih banyak mengalir ke penadah ketimbang masyarakat penerima, sehingga warga terpaksa membeli di tingkat pengecer dengan harga jauh di atas ketentuan resmi.
“Kondisi ini janggal dan tidak masuk akal dalam sistem distribusi resmi. Saya sempat melihat mobil tangki mengisi di agen, tapi sekitar satu jam kemudian stok sudah dinyatakan habis saat saya datang membeli. Kami akhirnya membeli di pengecer dengan harga lebih mahal,” ujar Clara.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Maluku Tenggara, Nety Dahlan Uar, menegaskan ketersediaan minyak tanah secara kuota masih aman. Pemerintah daerah, terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan penambahan kuota menjelang hari besar keagamaan.
Menurut Nety, pola distribusi tambahan biasanya dilakukan dengan memetakan wilayah prioritas berdasarkan komunitas dan momentum hari raya. Skema serupa, telah diterapkan saat Natal dan direncanakan kembali pada momen Idulfitri, khususnya di pangkalan yang berada di wilayah mayoritas muslim.
“Penambahan kuota minyak tanah tetap ada, termasuk permintaan 100 kiloliter ke Pertamina dan BP Migas. Kami berharap seluruhnya bisa diakomodasi, seperti yang biasa dilakukan saat hari besar keagamaan,” kata Nety.
Di sisi pengawasan, Disperindag Maluku Tenggara mengaku telah dan akan terus melakukan inspeksi lapangan untuk mencegah penimbunan. Jika ditemukan pelanggaran, sanksi administrasi hingga proses hukum siap diterapkan kepada agen maupun pedagang yang terbukti menyelewengkan distribusi.
Nety juga mengingatkan masyarakat agar berbelanja sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Perilaku konsumsi yang berlebihan dapat mempercepat habisnya stok di pasar, sehingga menimbulkan kesan kelangkaan meski pasokan sebenarnya tersedia dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga.