Opa Jambu, Penjual Sapu Lidi Bertongkat Tetap Semangat Berpuasa

  • 10 Mar 2026 11:39 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID,Tolitoli – Bagi masyarakat yang kerap melintas di Jalan Veteran, mungkin pernah melihat seorang lelaki paruh baya berjalan perlahan dengan bantuan dua tongkat bambu sambil membawa sapu lidi. Lelaki tersebut dikenal dengan panggilan Opa Jambu, warga Dusun Malempak, Desa Dadakitan, yang sehari-hari menjajakan sapu lidi kepada masyarakat yang melintas, termasuk di suasana bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.

Dengan kondisi kaki kanan yang telah buntung, Opa Jambu tetap berkeliling menjual sapu lidi buatannya. Tongkat bambu menjadi penopang langkahnya saat berjalan dari satu tempat ke tempat lain menawarkan dagangan.

Saat ditemui di bawah pohon di Jalan Veteran, tepat di depan GOR, Opa Jambu menyempatkan diri beristirahat setelah berkeliling menjajakan dagangannya. Kepada RRI, ia mengatakan dari 20 ikat sapu lidi yang dibawanya hari itu, sebanyak 10 ikat sudah terjual. Satu ikat sapu lidi dijual dengan harga Rp5.000.

Sapu lidi yang ia jual dibuat dari pelepah kelapa yang dibelinya dari tetangga. Bersama sang istri, pelepah tersebut diserut lalu diikat hingga menjadi satu ikat sapu lidi siap jual. Dari dua ikat yang terjual, ia mendapatkan keuntungan sekitar Rp5.000. Meski penghasilannya tidak besar, hasil berjualan tersebut cukup membantu memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga.

Di tengah pekerjaannya berjualan sapu lidi keliling dengan kaki pincang dan bantuan tongkat bambu, Opa Jambu mengaku tetap menjalankan ibadah puasa dengan penuh semangat. Sejak awal Ramadhan hingga saat ini, ia mengatakan puasanya tetap berjalan tanpa ada yang batal.

“Dengan kondisi seperti ini saya tetap berjualan keliling, puasa tetap jalan terus. Di bulan puasa ini saya juga berusaha lebih meningkatkan ibadah kepada Allah SWT,ya kalau tidak bekerja mau makan apa,ada anak-anak tapikan mereka juga punya kebutuhan sendiri ” tuturnya.Selasa( 10 Maret 2026)

Ketika ditanya mengenai kondisi kaki kanannya yang buntung, Opa Jambu menuturkan bahwa hal tersebut terjadi akibat kecelakaan kerja saat dirinya masih muda. Saat itu kakinya tertindih kayu sehingga harus menjalani amputasi.

Meski hidup dengan keterbatasan fisik, Opa Jambu tidak pernah patah semangat ataupun merasa minder dalam bekerja. Ia terus berusaha mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya yang saat ini masih tinggal di rumah sederhana berdinding papan.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Opa Jambu tetap berjualan sambil berdoa agar diberikan rezeki oleh Allah SWT sehingga dapat memenuhi kebutuhan lebaran. Dari penghasilannya, ia juga menyisihkan sebagian uang untuk membeli kacamata agar penglihatannya kembali lebih terang.

"Iya mata sudah rabun,sulit melihat,mau beli kacamata uang tidak cukup,mudah-mudahan ada yang bantu belikan kaca mata supaya penglihatan terang"Harapnya

Kisah Opa Jambu menjadi gambaran perjuangan hidup yang penuh keteguhan. Meski memiliki keterbatasan fisik, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk bekerja dan menjalankan kewajiban agama, khususnya di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.

Rekomendasi Berita