Fenomena Flexing, Pakar Ungkap Ciri Orang Kaya Sebenarnya
- 31 Des 2025 11:58 WIB
- Toli Toli
KBRN, Tolitoli: Fenomena flexing atau pamer kekayaan di media sosial kerap dikaitkan dengan keberadaan “orang kaya palsu”. Perilaku ini dinilai berbeda dengan karakter orang kaya yang sesungguhnya. Orang kaya asli umumnya tidak menghambur-hamburkan uang untuk sekadar pamer, melainkan lebih memprioritaskan kebutuhan jangka panjang seperti tabungan, investasi, dan perlindungan kesehatan. Sebaliknya, orang kaya palsu cenderung berorientasi pada konsumsi demi menarik perhatian.
Praktisi bisnis sekaligus Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, dalam podcast YouTube bersama Deddy Corbuzier topik “Penipunya Semakin Muda, Charming dan Branded” menjelaskan sejumlah perbedaan antara orang yang benar-benar kaya dan mereka yang hanya berpura-pura kaya.
Menurut Rhenald, orang kaya sejati tidak gemar membicarakan atau memamerkan kekayaannya, baik kepada orang lain maupun di media sosial. Mereka cenderung bersikap santai dan tidak tertarik menjadikan harta sebagai bahan pembicaraan. Sebaliknya, orang yang berpura-pura kaya justru antusias menunjukkan dan melebih-lebihkan kekayaannya demi pengakuan.
Ciri lainnya, orang kaya memandang menabung sebagai kewajiban, bukan pilihan. Bahkan, investor dunia Warren Buffett menyarankan agar sepertiga penghasilan dialokasikan untuk menabung. Berbeda dengan orang kaya palsu yang lebih senang menghabiskan uang untuk kebutuhan konsumtif.
Selain itu, orang kaya sejati lebih fokus pada investasi dibandingkan sekadar membeli barang. Rhenald mencontohkan pengusaha Reino Barack yang memanfaatkan keuntungan investasi saham untuk membangun bisnis restoran, alih-alih mengikuti tren konsumsi semata.
Terakhir, orang kaya sesungguhnya memiliki strategi berhemat dalam setiap pengeluaran. Mereka tidak serta-merta membeli sesuatu hanya karena mampu, melainkan mempertimbangkan manfaat dan dampaknya dalam jangka panjang.
Melalui penjelasan tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dan kritis dalam memandang fenomena flexing, serta tidak mudah terpengaruh oleh tampilan kemewahan yang belum tentu mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya.