Makna Yang Terdapat Dalam Shafar, Ini Penjelasannya

  • 10 Agt 2024 11:03 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Sepekan lalu kita berada dalam bulan Muharram atau bulan pertama dalam penanggalan Hjriah, dan hari ini telah memamsuki bulan kedua yaitu bulan Shafar 1446 Hijriah. Sebagai umat Islam, sebaiknya kita mengetahui latar belakang penamaan bulan Safar, yang sering dikaitkan dengan sejumlah mitos. Safar yang memiliki arti “sepi” atau “sunyi” sesuai keadaan masyarakat Arab pada zaman dahulu yang yang selalu sepi pada bulan Safar.

Ketua yayasan Darul Madinah Madiun ustadz Amir Abdullah, M.Pd, menyampaiakan hal tersebut saat memberikan tausiyahnya pada acara Mutiara Pagi RRI Madiun.(10/8/2024)

“Setiap momen yang diberikan kepada kita oleh Allah SWT dalam kehidupan kita akan menjadi bermakna, hingga terasa hidup kita menjadi lebih berkwalitas dan menjadi lebih terarah. Dalam bulan shafar itu sendiri ada makna – makna khusus yang terkandung diadalamnya terutama kita kaitan dengan firman Allah yaitu ada 4 orang yang beruntung, diantaranya, orang-orang yang beriman yang imannya diejawantahkan dalam prilaku sehari-hari, saling memberikan nasehat tentang kesabaran dan kebenaran”, ujarnya.

Dikatakan, ada makna-makna khusus yang bisa kita hadirkan dalam bulan Shafar, yang pertama bahwa Shafar itu bermakna kuning keemasan yang membuat orang melihatnya akan tertarik. Bahwa sesuatu yang sudah menguning maka saatnya sudah mateng dan akan habis masanya. Dalam kehidupan kita dalam makna pertama ini memahamkan bahwa kita sudah waktunya kembali kepada rabbul aalamiin.

Makna kedua yang terkandung dalam bulan Shafar artinya kosong atau nol, dalam kondisi tertentu dalam kehidupan kita perlu mengosongkan sesautau yang menganggu kedihupan kita secara umum.

“Dalam dunia psikologi kadang kita merasa tertekan, pusing, hal itu terjadi karena over thinking atau banyak dipikirkan, mengkhawtirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Dengan kita membuang/mengosongkan dengan berbagai hal yang menganggu kehidupan kita maka kita akan ringan, lebih bahagia dan tentram. Artinya kita harus bertoubat agar perjalanan hidup lebih mulus dan lebih baik”, dijelaskan Ustadz Amir Abdullah.

Menyinggung bahwa bulan Shafar adalah bulan “sial” Ustadz Amir menegaskan tidak ada bulan sial karena sial itu dapat terjadi kapan dan dimana saja. Untuk itu Ia berharap hal utama yang harus dilakukan adalah selalu mengawali apapun itu dengan “Bismillah” niat karena Allah, banyak bersedekah, mematuhi nilai-nilai/norma-norma yang ada di di masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....