Romantisme Aroma Kampung, Bumi Sawerigading Tampil Memukau di Pawai IRAW
- 11 Okt 2025 11:48 WIB
- Tarakan
KBRN, Tarakan : Deretan mobil hias yang melaju anggun pada Pawai Budaya Iraw Tengkayu, satu iringan dari Kerukukan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Tarakan mencuri perhatian. Mobil hias mereka, dihiasi dedaunan sagu dan pelepahnya, membawa aroma kampung dan cerita tanah leluhur yang subur.
Ini bukan sekadar pawai, melainkan perayaan filosofi hasil bumi yang telah mengakar kuat di hati masyarakat Luwu.
Idris, Koordinator Mobil Hias Luwu Raya, berdiri di samping karya mereka dengan penuh kebanggaan. Dengan nada penuh semangat, ia menceritakan makna di balik setiap elemen yang mereka pamerkan.
“Kami ingin menunjukkan bagaimana leluhur kami bekerja di kampung, membangun kehidupan dari kebun-kebun mereka,” ujarnya.
BACA JUGA : Ribuan Peserta Meriahkan Pawai Budaya Iraw Tengkayu XIV
Di tanah Luwu, yang acap kali disebut Bumi Sawerigading, tersohor karena tanahnya yang subur. Konon semua yang ditanam pasti tumbuh. Durian, cokelat, cengkeh, rambutan, merica, langsat, semua itu adalah anugerah dari tanah nan subur
Filosofi ini bukan sekadar romantisme masa lalu. Bagi masyarakat Luwu, tanah adalah ibu yang murah hati, memberikan kehidupan melalui setiap tunas yang mereka tanam.
Mobil hias yang mereka rancang dengan konsep lantang bela, adalah pondok kebun yang menggambarkan kehidupan petani sederhana namun penuh makna.
“Semua bahan di mobil ini dari pohon sagu, mulai dari daun hingga pelepahnya,” jelas Idris, seraya menunjuk dekorasi yang tampak alami namun penuh estetika.
“Kami sengaja memilih sagu karena ini bagian dari identitas kami, bagian dari kehidupan sehari-hari di kebun,” imbuhnya lagi.
Di belakang mobil hias utama, sebuah mobil lain menampilkan tumpukan kakao, simbol kebanggaan lain dari Luwu. “Kakao adalah harta kami,” kata Idris dengan senyum lebar.
Luwu menyumbang 65 persen produksi kakao di Sulawesi Selatan. Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah bukti bahwa tanah Luwu tak hanya subur, tetapi juga mampu menopang ekonomi masyarakatnya.
BACA JUGA : Ini Jumlah Peserta Pawai Budaya Iraw Tengkayu 2025
Pawai ini, bagi Idris, bukan sekadar ajang unjuk kreativitas. Ini adalah cara masyarakat Luwu memperkenalkan identitas mereka, khususnya kepada warga Tarakan yang menjadi tuan rumah perhelatan Iraw Tengkayu.
“Kami ingin memberikan yang terbaik. Kami ingin menunjukkan bahwa inilah kemampuan kami, inilah cara kami berpartisipasi dengan membawa hasil bumi yang menjadi kebanggaan kami," tukas Idris.
Tanah Sawerigading, dengan segala kemurahan hatinya, terus bercerita melalui durian yang ranum, kakao yang harum, dan sagu yang kokoh.
Dan melalui pawai ini, masyarakat Luwu mengajak semua orang untuk menghormati dan merayakan anugerah bumi yang tak pernah berhenti memberi. (Crz)