Kisah Petambak Kaltara Menjaga Ekosistem dari Garis Pantai
- 22 Mei 2025 18:00 WIB
- Tarakan
KBRN, Tarakan: Di tengah riak air tambak dan rindangnya pepohonan mangrove, nama Drs. H. Muhammad Jufri Jafar, M.M tumbuh sebagai simbol harapan bagi lingkungan. Bukan hanya sebagai petambak biasa, pria ini menjadi pionir pelestarian hutan mangrove di Kalimantan Utara yang mengabdikan lebih dari satu dekade hidupnya untuk memulihkan alam sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.
Bermula dari menurunnya hasil tambak, Jufri menyadari bahwa akar masalahnya terletak pada rusaknya habitat alami, yakni hutan mangrove. “Sumber makanan alami ikan berasal dari mangrove. Saat pohon-pohon itu hilang, otomatis biota laut kekurangan makanannya,” terangnya dalam bincang Kisah Pekan Ini Pro 1 RRI Tarakan.
Pengetahuan ini tak hanya ia peroleh dari seminar-seminar lingkungan, tetapi juga dari pengalaman bertahun-tahun sebagai petambak. Ia menegaskan, “tambak yang dulu subur dengan mangrove, hasilnya luar biasa. Tapi setelah habis dibabat, hasilnya makin merosot.”
Dalam kesempatan yang sama, Jufri melanjutkan, “awalnya karena ingin bersih dari gulma, para petambak menebang mangrove. Tapi setelah itu, produksi tambak ikut jatuh,” jelasnya lirih.
Lebih dari 500 hektar lahan mangrove saat ini telah ditanami oleh kelompoknya: Pa Bilung dan Pa Tinda. Kegiatan ini dilakukan tak hanya untuk memperbaiki kerusakan lingkungan akibat pembabatan hutan mangrove, tetapi juga untuk memulihkan keseimbangan ekosistem tambak yang sempat rusak.
Kini, tambaknya pun kembali produktif. Bahkan, ia tak hanya memelihara ikan, tapi juga udang dan kepiting yang sangat tergantung pada keberadaan mangrove. “Kalau dulu cuma satu jenis, sekarang bisa tiga. Pendapatan pun meningkat,” tuturnya sambil tersenyum.
Mangrove bagi Jufri bukan sekadar pepohonan pesisir. Ia adalah sumber kehidupan, tempat bernaungnya ekonomi masyarakat, peluang ekowisata, hingga laboratorium alami untuk edukasi dan inovasi. “Kalau kelompok kami memang belum mengolah hasilnya jadi komoditas, tapi kelompok lain sudah ada yang memproduksi sirup, kipas dari daun nipa, sampai kopi dari biji mangrove,” ungkapnya.
Bantuan dari pemerintah pun mulai berdatangan. BRGM (Badan Restorasi Gambut dan Mangrove) telah memberikan dukungan berupa alat transportasi dan fasilitas produksi untuk memperkuat kegiatan kelompoknya.
Konsistensi Jufri dan kelompoknya dalam pelestarian lingkungan tak luput dari perhatian. Ia pernah mewakili Kalimantan Utara dalam ajang penghargaan lingkungan hidup tingkat provinsi dan nasional, dan berhasil masuk 10 besar dari 34 provinsi.
“Kita cuma kalah di aspek teknologi informasi (IT),” kelakarnya, merujuk keterbatasan teknis yang mereka alami. “Kalau materi dan kebermanfaatan, kita sudah siap. Maklum, sehari-hari bergelutnya di tambak.”
Namun, ia tidak berkecil hati. Bagi Jufri, penghargaan utama adalah dukungan dari keluarga, rekan petambak, dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Jufri juga kerap diundang sebagai pemateri oleh berbagai lembaga lokal maupun internasional. Dari Royal Crown, RRI Tarakan, hingga Global Eco Rescue. Bahkan pernah melangkah ke Vietnam dalam forum lingkungan internasional.
Di sana, Jufri banyak belajar bagaimana negara lain memberikan apresiasi nyata kepada para pelestari lingkungan. “Di Vietnam, per hektar mangrove yang ditanam bisa dihargai 700 Dong per tahun, atau sekitar Rp500 ribu. Bayangkan kalau kita punya 500 hektar?” tukasnya.
Meski ada banyak dukungan, tak semua berjalan mulus. Jufri mengungkapkan bahwa bantuan dari pemerintah sempat direncanakan, namun kemudian terkena kebijakan efisiensi anggaran akibat Inpres No.1 Tahun 2025, sehingga harus dipending sementara.
Selain itu, ada rencana dari lembaga pemerintah daerah untuk mengembangkan sistem ekonomi berbasis karbon, yaitu pemasangan alat pengukur kadar oksigen dari hutan mangrove, yang akan dikonversi menjadi nilai ekonomi. Namun, program tersebut masih dalam tahap sosialisasi dan belum masuk ke tahap MoU.
“Saya sih berharap program ini jalan. Tapi walaupun tidak, kita tetap menanam. Karena bukan itu yang jadi motivasi utama, tapi warisan lingkungan untuk anak cucu,” jelasnya.
Kesadaran akan pentingnya regenerasi menjadi perhatian utama Jufri. Ia percaya bahwa ilmu dan semangat harus diwariskan, bukan disimpan.
“Keberhasilan tidak boleh berhenti di saya. Generasi muda harus paham dan peduli. Kalau tidak, sia-sia perjuangan ini,” katanya penuh keyakinan.
Kini, beberapa anak muda seperti Muhammad Nasir, Paman Kadir dan Pak Amin Tansih, juga teman-teman dari Letak dan Kasbat telah mengikuti jejaknya dengan melakukan penanaman mandiri. “Itu yang membuat saya bersyukur. Tidak semua anak muda sibuk dengan teknologi. Masih ada yang mau jaga alam,” katanya.
Pada penghujung perbincangan, Jufri menyampaikan harapan besar untuk masa depan.
“Kelestarian hutan harus jadi tanggung jawab bersama. Pemerintah, masyarakat, dan LSM harus bersinergi. Kita ini khalifah di bumi, diperintahkan untuk menjaga, bukan merusak,” tuturnya sambil menatap lurus.
Muhammad Jufri Jafar bukan hanya seorang petambak. Ia adalah penjaga garis pantai, pendidik lingkungan, pejuang konservasi, dan bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari seseorang yang punya niat, tekad dan aksi yang nyata. Ditengah kondisi lingkungan yang tidak baik-baik saja, kisahnya menjadi napas segar — ia tidak hanya menanam pohon, tapi juga menanam harapan untuk masa depan Kalimantan Utara.