Borong Takjil Picu Inflasi? Akademisi Kaltara Minta Warga Bijak Belanja

  • 24 Feb 2026 12:21 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Gairah ekonomi selama bulan Ramadhan memang meningkat pesat dengan menjamurnya pedagang musiman. Namun, Direktur Politeknik Bisnis Kaltara, Dr. Ana Sri Ekaningsih, memperingatkan bahwa perilaku konsumtif yang berlebihan dapat memicu kebocoran keberkahan secara ekonomi.

Dr. Ana menjelaskan bahwa lonjakan permintaan (demand) yang tidak terkendali, terutama pada bahan pangan seperti cabai dan telur, menjadi pemicu utama kenaikan harga atau inflasi di bulan Ramadhan. Masyarakat cenderung membeli atas dasar keinginan, bukan kebutuhan fungsional.

"Mubazir secara ekonomi adalah penggunaan sesuatu yang berlebihan sehingga menjadi sia-sia. Ketika kita menumpuk makanan yang akhirnya tidak termakan, itu adalah kerugian materiil yang seharusnya bisa dialokasikan untuk hal lain," jelas Dr. Ana.

Ia memberikan simulasi sederhana: jika satu keluarga membuang sisa makanan senilai Rp20.000 setiap hari, maka dalam sebulan mereka telah menyia-nyiakan Rp600.000. Uang tersebut sejatinya bisa digunakan untuk membayar zakat fitrah atau keperluan hari raya yang lebih mendesak.

Dr. Ana menyarankan strategi "Planning Menu" untuk menghindari lapar mata. Masyarakat diminta mencatat apa saja yang benar-benar dibutuhkan sebelum berangkat ke pasar Ramadhan. Belanja tanpa daftar rencana seringkali membuat dompet "jebol" karena tergiur suasana pasar.

Selain itu, ia menekankan pentingnya empati sosial. Perilaku borong takjil atau "War Takjil" yang tidak terkendali dapat menutup akses bagi warga yang kurang mampu untuk mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau akibat stok yang menipis.

Dengan menjadi konsumen yang bijak, masyarakat tidak hanya membantu stabilitas harga pasar, tetapi juga meningkatkan kesalehan sosial. "Mari kita menjadi rem bagi diri sendiri agar pertumbuhan ekonomi Ramadhan tetap sehat dan tidak menimbulkan inflasi yang memberatkan," pungkasnya.

Rekomendasi Berita