Pilih Mana, Protein Hewani atau Protein Nabati?

  • 22 Jan 2025 08:57 WIB
  •  Tanjungpinang

KBRN, Tanjungpinang: Berawal dari gemar mengkonsumsi makanan sehat, hingga akhirnya Mita Elvira memilih untuk membuka usaha yang diberi nama Nutribites. Produk yang dijual olehnya ialah spring roll dan sandwich yang laris terjual di bazar imlek.

"Produk yang saya jual adalah makanan sehat tinggi protein," ucap Mita pada acara sembang UMKM, Rabu (22/1/2025).

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi protein dapat meningkatkan rasa kenyang dan membantu mengurangi asupan kalori harian. Protein memiliki efek termogenik lebih tinggi dibandingkan lemak dan karbohidrat, yang berarti tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk mencernanya, sehingga meningkatkan pembakaran kalori.

Protein hewani, seperti daging, ikan, telur, dan produk susu, dikenal sebagai protein lengkap karena mengandung semua sembilan asam amino esensial yang diperlukan tubuh. Namun, konsumsi tinggi daging merah dan produk olahan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan inflamasi akibat kandungan lemak jenuh yang lebih tinggi.

Protein nabati, seperti dari kacang-kacangan, biji-bijian, kedelai (seperti tahu dan tempe), quinoa, dan lentil, kaya akan serat, antioksidan, dan fitonutrien yang membantu mengurangi inflamasi dan risiko penyakit jantung. Sebuah studi di Harvard menunjukkan bahwa mengganti protein hewani dengan protein nabati dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 19%.

Protein hewani umumnya lebih padat nutrisi dan cepat diserap, tetapi protein nabati memberikan manfaat kesehatan tambahan, termasuk serat dan senyawa antiinflamasi. Pilihan antara keduanya bergantung pada kebutuhan nutrisi, gaya hidup, dan preferensi diet seseorang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....