Sejarah Munculnya Hooligans dalam Dunia Sepak Bola
- 21 Okt 2025 09:13 WIB
- Tanjungpinang
KBRN, Tanjungpinang: Fenomena hooligans merupakan bagian kelam dari sejarah sepak bola dunia. Istilah ini mengacu pada kelompok pendukung yang bertindak anarkis, suka menimbulkan kerusuhan, dan sering terlibat bentrok dengan suporter lawan.
Melansir dari situs cultura.id, kata hooligan sendiri mulai populer di Inggris pada akhir abad ke-19, ketika media menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan perilaku kelompok muda yang gemar membuat kekacauan di jalanan London. Seiring waktu, istilah itu kemudian melekat pada perilaku sebagian suporter sepak bola Inggris yang dikenal keras dan fanatik.
Perilaku football hooliganism mulai benar-benar muncul pada era 1950–1960-an di Inggris, bersamaan dengan meningkatnya popularitas sepak bola di kalangan kelas pekerja. Stadion menjadi tempat bagi para pemuda untuk mengekspresikan identitas dan solidaritas kelompok mereka, namun juga menjadi ajang pelampiasan kekerasan. Pada masa ini, sejumlah klub besar seperti Manchester United, Chelsea, Leeds United, dan West Ham United mulai dikenal memiliki kelompok suporter yang militan dan kerap menimbulkan kerusuhan di dalam maupun di luar stadion.
Puncak aktivitas hooliganisme terjadi pada tahun 1970 hingga 1980-an, yang sering disebut sebagai “masa keemasan hooligans Inggris”. Pertarungan antarkelompok suporter semakin terorganisir, bahkan hingga diatur secara rahasia di luar stadion. Beberapa nama kelompok hooligan terkenal pada masa itu antara lain Inter City Firm (West Ham), Red Army (Manchester United), dan Chelsea Headhunters. Kekerasan yang mereka lakukan sering kali melibatkan senjata tajam, botol kaca, hingga perkelahian besar-besaran di stasiun dan jalanan.
Namun, gelombang kekerasan yang terus meningkat akhirnya menimbulkan tragedi besar. Salah satu peristiwa paling tragis adalah Tragedi Heysel tahun 1985, ketika bentrokan antara pendukung Liverpool dan Juventus dalam final Liga Champions di Brussel menewaskan 39 orang. Tragedi itu menjadi titik balik bagi pemerintah Inggris untuk bertindak tegas. Pemerintah memberlakukan larangan masuk stadion bagi pelaku kekerasan, memperketat keamanan, serta memasang kamera pengawas di setiap pertandingan.
Meskipun tindakan keras berhasil menekan kekerasan di stadion Inggris, budaya hooliganisme sudah terlanjur menyebar ke berbagai negara di Eropa dan dunia. Hingga kini, istilah hooligan masih digunakan untuk menggambarkan suporter yang berperilaku ekstrem dan tidak sportif. Dari Inggris, fenomena ini menjadi pelajaran penting bahwa semangat fanatisme dalam sepak bola harus disalurkan dengan cara yang positif, tanpa mengorbankan keselamatan dan sportivitas dalam olahraga yang seharusnya menjadi hiburan bagi semua kalangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....