Mengenal Sejarah Hooligan, Suporter Sepak Bola Inggris

  • 17 Okt 2025 08:50 WIB
  •  Tanjungpinang

KBRN, Tanjungpinang: Fenomena hooliganisme menjadi bagian kelam dari sejarah sepak bola Inggris yang tak bisa diabaikan. Istilah hooligan merujuk pada perilaku kelompok suporter yang melakukan tindakan kekerasan, kerusuhan, dan vandalisme, baik di dalam maupun di luar stadion. Akar dari budaya ini mulai muncul pada akhir 1960-an, ketika rivalitas antarklub sepak bola di Inggris semakin memanas dan rasa fanatisme suporter mencapai puncaknya.

Melansir dari situs noice.id, pada awalnya kelompok suporter fanatik ini terbentuk sebagai bentuk solidaritas dan kebanggaan terhadap klub masing-masing. Namun, seiring waktu, sebagian di antara mereka berubah menjadi kelompok yang dikenal dengan kekerasan dan intimidasi. Pertikaian sering kali terjadi di jalanan menuju stadion, pub, hingga di tribun penonton. Klub-klub besar seperti Manchester United, Chelsea, Liverpool, dan West Ham United bahkan memiliki kelompok hooligan yang terkenal dengan aksi brutal mereka.

Puncak kekerasan hooliganisme terjadi pada tahun 1970–1980-an. Saat itu, pertandingan sepak bola di Inggris sering diwarnai kerusuhan besar yang menyebabkan banyak korban luka dan bahkan meninggal dunia. Salah satu tragedi paling dikenal adalah Tragedi Heysel pada tahun 1985, ketika bentrokan antara suporter Liverpool dan Juventus menyebabkan 39 orang tewas. Kejadian tersebut membuat citra sepak bola Inggris tercoreng di mata dunia dan memicu pemerintah untuk mengambil tindakan tegas.

Sebagai respons, pemerintah Inggris bersama otoritas sepak bola memberlakukan kebijakan ketat untuk memberantas hooliganisme. Polisi mulai menggunakan sistem identifikasi suporter, kamera pengawas di stadion, dan larangan masuk bagi individu yang terlibat kekerasan. Media massa pun gencar mengkampanyekan pentingnya sportivitas dan perilaku positif di kalangan penonton. Upaya ini perlahan-lahan berhasil mengurangi kekerasan dan mengembalikan citra sepak bola Inggris sebagai tontonan keluarga.

Kini, meski insiden hooliganisme belum sepenuhnya hilang, sepak bola Inggris telah jauh lebih aman dan tertib dibandingkan masa lalu. Banyak suporter muda lebih memilih mengekspresikan dukungan mereka melalui nyanyian, atribut klub, dan media sosial. Sejarah panjang hooliganisme menjadi pengingat bahwa semangat fanatisme dalam sepak bola seharusnya disalurkan dengan cara yang positif dan penuh sportivitas, bukan melalui kekerasan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....