Potensi Kelautan Perlu Ditransformasikan Menjadi Kekuatan Ekonomi Produktif
- 02 Okt 2026 20:17 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, soroti Potensi besar sumber daya kelautan Indonesia. Potensi tersebut perlu ditransformasikan menjadi kekuatan ekonomi yang produktif, bernilai tambah, inklusif, dan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem.
Hal itu dikatakannya saat menjadi keynote speaker pada The 6th Maritime Continent Fulcrum International Conference (MaCiFIC) 2026. Digelar di Auditorium Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Dompak, Tanjungpinang, Jumat, 2 Oktober 2026.
Rokhmin Dahuri, membawakan materi bertajuk “Blue Economy: A Gamechanger for Achieving Golden Indonesia 2045 and a Better World” atau “Ekonomi Biru: Penggerak Perubahan untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045 dan Dunia yang Lebih Baik.” Materi tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembahasan MaCiFIC 2026 yang mengangkat tema “Securing the Maritime Future: Advancing Smart Technology and Governance for a Resilient Blue Economy.”
“Laut dan kawasan pesisir semakin strategis bagi kehidupan manusia seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan terhadap pangan, energi, air, obat-obatan, bahan baku, ruang pembangunan, pariwisata, transportasi, hingga lapangan pekerjaan,” ujar Rokhmin Dahuri.
Kawasan pesisir, laut dan samudra yang mencakup sekitar 80 persen permukaan bumi tidak lagi dapat dipandang semata sebagai sumber daya yang dieksploitasi. Harus dilihat sebagai fondasi penting bagi ketahanan pangan, energi, keanekaragaman hayati, stabilitas iklim, perdagangan dan pertumbuhan ekonomi.
Blue Economy atau Ekonomi Biru tidak cukup dimaknai sebagai aktivitas ekonomi yang berlangsung di laut dan wilayah pesisir. Ekonomi biru harus menjadi paradigma pembangunan yang mengintegrasikan produktivitas ekonomi, keberlanjutan ekologi, inovasi teknologi, inklusi sosial, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta tata kelola laut yang efektif.
“Ekonomi yang tumbuh dengan mengorbankan perikanan, terumbu karang, mangrove, padang lamun, kualitas perairan, dan kehidupan masyarakat pesisir tidak dapat disebut sebagai Blue Economy,” tuturnya.
Terdapat lima pilar utama dalam pembangunan Ekonomi Biru berkelanjutan, yaitu produktivitas ekonomi, keberlanjutan ekologis, inklusivitas sosial, ilmu pengetahuan-teknologi dan inovasi, serta tata kelola laut yang baik. Kelima aspek tersebut, tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus dipandang sebagai satu kesatuan dalam kebijakan pembangunan kelautan.
Pentingnya integrasi ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan industri dalam pengembangan Ekonomi Biru. Sejumlah teknologi yang dinilai strategis antara lain Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), teknologi satelit dan penginderaan jauh, bioteknologi dan genomika, otomasi dan robotika, digital twins, blockchain, serta sistem ketertelusuran.
“Natural-resource abundance provides comparative advantage. Technology creates competitive advantage,” demikian salah satu pesan utama dalam materi yang dipaparkannya. Indonesia tidak boleh berhenti sebagai pemasok komoditas mentah kelautan.
“Pemanfaatan teknologi diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, kualitas, nilai tambah, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....