Ritel dan Distributor Punya Peran Tekan “Food Waste” di Tanjungpinang
- 28 Sep 2026 16:40 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang — Sektor ritel dan distribusi dinilai memiliki peran penting dalam menekan pemborosan makanan atau food waste, terutama melalui pengelolaan stok, penyimpanan, distribusi hingga pemanfaatan pangan yang masih layak konsumsi.
Persoalan ini masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data FAO dan BPS yang disampaikan pada Desember 2025 mencatat food loss and waste di Indonesia mencapai hingga 184 kilogram per kapita per tahun, dengan potensi kerugian ekonomi mencapai Rp551 triliun, atau sekitar lima persen dari Produk Domestik Bruto.
Pemborosan pangan tidak hanya terjadi di tingkat rumah tangga, tetapi juga sepanjang rantai pasok, termasuk perdagangan besar dan sektor ritel. Secara global, FAO mencatat sekitar 13,2 persen makanan hilang setelah panen sebelum mencapai tahap ritel, sementara sekitar 19 persen lainnya terbuang di tingkat ritel, jasa makanan dan rumah tangga.
Ketua Asosiasi Distributor Barang Pokok (ADIBAPOK) Kota Tanjungpinang, M. Sadmi Al Qoyum, mengatakan pengelolaan stok menjadi salah satu hal penting yang harus diperhatikan pelaku usaha. Distributor harus bisa menyesuaikan stok dengan kebutuhan pasar.
"Jangan sampai barang terlalu banyak, sementara daya serap masyarakat terbatas, sehingga akhirnya rusak atau tidak terjual,” ujar Qoyum, Senin, 28 September 2026.
Menurutnya, persoalan tersebut semakin penting untuk komoditas yang memiliki masa simpan relatif pendek. Karena itu, kondisi barang harus dipantau sejak diterima distributor hingga sampai ke pedagang dan konsumen.
“Koordinasi antara distributor, pedagang dan ritel sangat diperlukan. Dengan begitu, kita bisa mengetahui kebutuhan pasar dan mengatur pasokan agar tidak terjadi penumpukan,” katanya.
Ia menambahkan, produk yang masih layak konsumsi namun mendekati batas masa simpannya dapat diprioritaskan untuk segera dipasarkan dengan strategi harga tertentu, sepanjang memenuhi ketentuan keamanan pangan. Langkah tersebut dinilai tidak hanya dapat mengurangi jumlah makanan yang terbuang, tetapi juga membantu pelaku usaha menekan potensi kerugian.
“Kalau stok dikelola dengan baik, barang yang rusak atau tidak terjual bisa ditekan. Ini tentu menguntungkan pelaku usaha sekaligus mengurangi makanan yang menjadi sampah,” ujar Qoyum.
Upaya mengurangi food waste, lanjutnya, tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Distributor, peritel, pedagang dan konsumen perlu memiliki kesadaran yang sama untuk mengelola pangan secara lebih efisien.
Di sisi konsumen, pembelian sesuai kebutuhan juga menjadi bagian penting untuk mencegah makanan berakhir di tempat sampah. Dengan pengelolaan yang lebih baik dari hulu hingga hilir, pangan yang tersedia diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal, sekaligus mengurangi dampak ekonomi dan lingkungan akibat pemborosan makanan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....