Tanjak Pangan Dinilai Perlu Jadi Gerakan Ekonomi
- 28 Sep 2026 14:09 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Gerakan Tanjungpinang Ajak Jaga Pangan (Tanjak Pangan) dinilai tidak hanya penting untuk mengurangi sampah makanan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya efisiensi ekonomi masyarakat. Gerakan tersebut perlu didorong agar tidak berhenti sebagai kampanye, melainkan memberikan dampak nyata terhadap penghematan rumah tangga dan lingkungan, Senin, 28 September 2026.
Pengamat Ekonomi STIE Pembangunan Tanjungpinang, Dimas Satriadi, mengatakan pemborosan pangan menyebabkan hilangnya nilai ekonomi dari makanan yang telah dibeli namun tidak dikonsumsi. Kondisi tersebut juga menimbulkan biaya tambahan untuk pengelolaan sampah dan dampak lingkungan.
“Itu mengakibatkan nilai ekonomi akan menjadi hilang, sehingga nanti akan muncul lagi namanya biaya lingkungan,” ujar Dimas Satriadi.
Menurutnya, berdasarkan catatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), produksi sampah di Tanjungpinang mencapai sekitar 98 ton per hari dan sekitar 60 persen di antaranya merupakan sampah makanan. Ia menyebutkan, hasil pilot project di salah satu sekolah menunjukkan rata-rata sisa pangan mencapai sekitar 139 gram per orang per hari.
Satriadi menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan perlunya perubahan pola konsumsi masyarakat dengan mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskannya. Upaya tersebut sekaligus berkaitan dengan literasi keuangan keluarga karena pengurangan makanan terbuang dapat membantu menekan pengeluaran yang tidak diperlukan.
“Gerakan Tanjak Pangan ini merupakan salah satu efisiensi ekonomi di rumah tangga yang saya pikir bagus kalau betul-betul digalakkan,” ucapnya.
Ia juga mengatakan upaya pengurangan pemborosan pangan juga perlu menyasar sektor restoran dan perhotelan. Menurutnya, sejumlah pelaku usaha telah mulai menyesuaikan porsi makanan untuk mengurangi makanan yang tersisa, terutama dalam kegiatan seperti sarapan, rapat, maupun acara pernikahan.
Ia menambahkan, Pemko Tanjungpinang perlu menjadikan pengurangan pemborosan pangan sebagai bagian dari kebijakan, bukan sekadar sosialisasi. Gerakan tersebut juga dinilai harus dimulai dari lingkungan pemerintahan dengan memberikan contoh langsung kepada masyarakat.
“Artinya dari mulai kegiatan-kegiatan pemerintahan semuanya harus bersifat tidak ada lagi hal-hal yang mubazir,” tuturnya.
Ia berharap wali kota, kepala perangkat daerah hingga ASN dapat menjadi teladan dalam menerapkan efisiensi pangan. Dengan demikian, Gerakan Tanjak Pangan dapat memberikan dampak nyata terhadap penghematan ekonomi sekaligus pengurangan sampah makanan di Tanjungpinang.
”Gerakan ini harus dimulai dari pemerintah itu sendiri,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....