Tracing Kontak Erat Fokus Dinkes dalam Menekan TB di tengah Masyarakat

  • 17 Sep 2026 15:36 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Tracing kontak erat dan lingkungan penderita Tuberculosis atau TB menjadi langkah penting dalam menekan penderita TB. Namun, saat ini yang menjadi kendala adalah kepedulian dan kesediaan kontak erat dan lingkungan penderita TB yang banyak tidak bersedia untuk dilakukan pemeriksaan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang, Rustam, mengatakan sejak Bulan Januari 2026 hingga saat ini pihaknya telah mengobati lebih kurang 400 orang penderita TB. Bahkan sejak awal September, pihaknya telah mendapat bantuan dari Kementerian Kesehatan untuk menekan TB dengan mengintegrasikan dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Jadi, ada 87 lokus CKG yang diintegrasikan dengan tracing TB, yang masing-masing lokus ditargetkan kurang lebih 100 peserta,” ujar Rustam, Kamis, 17 Agustus 2026.

Langkah tersebut untuk mempercepat penemuan secara dini kasus-kasus TBC yang masih ada ditengah-tengah masyarakat. Menurutnya, dalam menekan TB yang paling penting adalah menelusuri mereka-mereka yang kontak erat karena memiliki resiko yang tinggi untuk tertular.

“Jadi kalau ada salah satu keluarga terkena TB, seluruh keluarganya harus di tracing bahkan di lingkungan pekerjaannya yang memiliki kontak dengan penderita juga kita undang untuk dilakukan tarcing,” tuturnya.

Namun yang menjadi kendala saat ini, masyarakat yang diundang untuk melakukan tracing ada yang bersedia dan ada juga yang tidak bersedia untuk datang di hari H. Untuk alasannya sendiri pihaknya belum mengatahui seacra pasti ketidak sediaannya.

Namun kemungkinan karena proses pengobatan yang cukup lama yaitu selama 6 bulan harus meminum obat. Sementara mereka yang tidak positif juga harus menjalani terapi pencegahan selama 12 minggu ketika berada dalam kontak erat.

Pihaknya juga menyasar tracing untuk masyarakat yang beresiko tinggi TB seperti perokok, mereka yang memiliki penyakit kronis, HIV, diabetes, hipertensi dan lain-lain. Kemudian para lansia, masyarakat yang memiliki kekurangan gizi atau berat badan yang terus menerus menurun dalam beberapa waktu.

"Termasuk kelompok-kelompok beresiko tinggi yang ditempat khusus seperti asrama pesantren, Rumah dentensi Imigrasi, Lembaga Pemasyarakatan dan sebagainya,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....