Generasi Muda Kepri Didorong Kenali Sejarah Raja Haji dan Raja Ali Haji
- 13 Agt 2026 19:01 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri) mendorong generasi muda untuk lebih mengenal sejarah dan identitas budaya Melayu, khususnya sosok pahlawan nasional Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji. Pemahaman tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak kehilangan identitas daerah di tengah perkembangan zaman, Kamis, 13 Agustus 2026.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepri, Moh. Bisri, mengatakan pengenalan sejarah lokal tidak cukup hanya melalui buku pelajaran kurikulum. Menurutnya, generasi muda perlu memahami identitas dirinya secara utuh dan memiliki keinginan untuk mencari informasi mengenai sejarah daerah.
“Kita harus membangun identitas budaya Melayu yang kuat di generasi muda,” ujar Moh. Bisri.
Menurutnya, para pelajar harus aktif mencari sumber sejarah, salah satunya dengan memanfaatkan perpustakaan. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji juga menjadi bagian penting dalam membangun karakter generasi muda Kepri.
“Kita dorong mereka punya keinginan mencari sumber aslinya, datang ke perpustakaan atau mencari informasi supaya tidak salah,” ucapnya.
Ia menambahkan, Raja Ali Haji memiliki posisi penting dalam sejarah sastra dan bahasa. Kiprahnya bahkan telah dikenal hingga tingkat internasional sebagai salah satu tokoh besar sastrawan dunia.
“Raja Ali Haji ini salah satu dari 24 tokoh besar sastrawan dunia yang diabadikan di Kyrgyzstan, di Indonesia cuma beliau,” tuturnya.
Budayawan Melayu, Abdul Kadir Ibrahim, mengatakan masih banyak masyarakat, termasuk generasi muda, yang keliru membedakan sosok Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji. Padahal, keduanya merupakan tokoh penting dengan perjuangan yang berbeda.
“Raja Haji Fisabilillah adalah Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang, sedangkan Raja Ali Haji adalah cucu Raja Haji Fisabilillah,” ujar Abdul Kadir Ibrahim.

Menurutnya, Raja Haji Fisabilillah dikenal sebagai pejuang yang memimpin perlawanan terhadap Belanda. Perjuangan tersebut berlangsung di kawasan Tanjungpinang hingga Malaka pada 1782-1784 dan berakhir dengan gugurnya Raja Haji dalam peperangan di Malaka pada 1784.
“Raja Haji itu meninggal karena berperang melawan Belanda di Malaka, karena beliau meninggal syahid di jalan Allah, kemudian disebut Raja Haji Fisabilillah,” ucapnya.
Lalu, Raja Ali Haji, berjuang melalui bahasa dan sastra. Ia menghasilkan sejumlah karya penting, termasuk Kitab Pengetahuan Bahasa dan Bustanul Katibin. Sehingga, berperan dalam perkembangan dan pembakuan bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia.
“Salah satunya menulis dan mengarang sebuah kamus untuk menjadi pegangan pembakuan bahasa di Nusantara pada masa Hindia Belanda,” tuturnya.
Atas jasanya, Raja Haji Fisabilillah ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1997, sedangkan Raja Ali Haji ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 2004. Keduanya juga diabadikan menjadi nama sejumlah lembaga pendidikan di Kepri, di antaranya Universitas Maritim Raja Ali Haji dan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Raja Haji.
Abdul Kadir Ibrahim menambahkan, agar sejarah Melayu, khususnya sejarah Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji, dimasukkan dalam pembelajaran di sekolah dan perguruan tinggi di Kepri. Ia menilai materi tersebut dapat diberikan melalui mata pelajaran maupun mata kuliah khusus.
“Saya kira harus ada di sekolah seluruh Kepri, satu materi tentang sejarah kemelayuan, khususnya sejarah pemimpin kerajaan di Riau-Lingga,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....