Forum TBM Kepri: Gerakan Ayah Mengantar Anak Harus Inklusif bagi Semua Siswa
- 20 Jul 2026 11:51 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Harken, menilai Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah merupakan langkah positif untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Namun, pelaksanaannya perlu mengedepankan prinsip inklusivitas agar seluruh anak dapat merasakan manfaat tanpa merasa terpinggirkan, Senin, 20 Juli 2026.
Harken mengatakan, gerakan tersebut menjadi pengingat bahwa tanggung jawab mendidik anak bukan hanya berada di tangan ibu, tetapi juga menjadi peran bersama dalam keluarga. Keterlibatan ayah, kata dia, memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan karakter, emosional, hingga rasa percaya diri anak.
”Kehadiran ayah dalam kehidupan anak memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan karakter dan perkembangan emosional mereka,” ujar Harken.
Harken menyebutkan, Indonesia memiliki keberagaman struktur keluarga, tidak semua anak tumbuh bersama ayah kandung, karena ada yang diasuh oleh ibu tunggal, kakek dan nenek, wali, maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu, banyak ayah yang harus bekerja di luar daerah sehingga tidak dapat mendampingi anak setiap saat.
Harken menegaskan, setiap program yang berkaitan dengan anak harus mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak. Menurutnya, pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah tidak boleh menimbulkan tekanan psikologis atau membuat anak merasa berbeda karena kondisi keluarga yang berada di luar kendali mereka.
”Jangan sampai ada anak yang merasa berbeda atau kurang berharga karena tidak memiliki kesempatan diantar oleh ayahnya,” ucapnya.
Harken menambahkan, semangat yang perlu dibangun bukan semata-mata kehadiran ayah di gerbang sekolah, melainkan meningkatnya keterlibatan keluarga dalam mendukung pendidikan anak. Ia mendorong sekolah untuk memberikan ruang partisipasi yang sama kepada ibu, wali, kakek, nenek, maupun anggota keluarga lain dalam berbagai kegiatan pendidikan.
“Setiap anak berhak merasakan dukungan tersebut tanpa memandang latar belakang keluarganya,” tuturnya.
Ia berharap, Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah dapat terus dikembangkan dengan pendekatan yang lebih inklusif, sehingga seluruh anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh dalam lingkungan yang penuh perhatian, kasih sayang, dan dukungan keluarga. Sehingga, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya ayah yang hadir mengantar anak ke sekolah, tetapi juga dari terciptanya rasa aman, dihargai, dan didukung bagi setiap anak tanpa terkecuali
“Setiap anak harus memperoleh kesempatan yang sama dalam tumbuh di lingkungan yang penuh perhatian dan dukungan keluarga,” katanya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....