Survei IPR 2025, Potensi Radikalisme Kepri Menurun
- 18 Jun 2026 19:36 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kepulauan Riau (Kepri) memaparkan hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025 dalam kegiatan Kajian Senin Kamis (KSK) Tahun 2026, Kamis, 18 Juni 2026. Hasil survei menunjukkan tingkat potensi radikalisme di Kepri cenderung menurun dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Dalam sambutan Direktur Pencegahan BNPT RI yang dibacakan Subkoordinator Penelitian dan Evaluasi BNPT, Teuku Fauzansyah, menyebutkan, Survei IPR menjadi salah satu instrumen penting dalam memetakan kerentanan masyarakat terhadap paham radikal. Hasil pemetaan tersebut digunakan sebagai landasan dalam merumuskan kebijakan pencegahan yang lebih efektif.
“Survei Indeks Potensi Radikalisme merupakan instrumen strategis yang dikembangkan BNPT,” ujar Teuku Fauzansyah.
Teuku menjelaskan, nilai Indeks Potensi Radikalisme di Provinsi Kepri pada tahun 2025 berada pada angka 13,1, angka tersebut relatif stabil dibandingkan tahun 2024 dan mengalami penurunan dari tahun 2023 yang tercatat sebesar 13,7. Menurutnya, hasil survei tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan program pencegahan yang berbasis data dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan situasi di masyarakat.
Peneliti FKPT Kepri, Muhamad Zaenuddin, mengatakan, penelitian dilakukan terhadap 350 responden yang berasal dari Kota Batam, Kota Tanjungpinang, dan Kabupaten Bintan. Survei dilakukan melalui metode wawancara langsung untuk memperoleh gambaran mengenai potensi radikalisme, tingkat pengenalan masyarakat terhadap BNPT dan FKPT, serta pola konsumsi konten keagamaan di ruang digital.
”Kita melakukan penelitian terhadap 350 responden, berasal dari Tanjungpinang, Batam, dan Bintan,” ujar Muhamad Zaenuddin.
Menurutnya, penguatan nilai keberagaman menjadi faktor penting dalam upaya mencegah berkembangnya paham radikal di tengah masyarakat. Sikap saling menghargai perbedaan dinilai menjadi modal utama dalam menjaga kerukunan.
“Masyarakat perlu memahami bahwa perbedaan suku, agama, dan latar belakang merupakan sesuatu yang wajar,” ucapnya.
Anggota Tim Reviu Survei IPR 2025, Lilik Purwandi, mengatakan, tren potensi radikalisme di Kepri masih berada pada kategori terkendali. Namun, terdapat sejumlah kelompok yang memerlukan perhatian lebih, seperti perempuan, generasi muda, serta masyarakat yang aktif memanfaatkan ruang digital.
“Merupakan faktor penting yang perlu diperkuat agar masyarakat memiliki daya cegah, daya tangkal, daya lawan terhadap radikalisme dan terorisme,” ujar Lilik Purwandi.
Ia menilai sikap eksklusif dan intoleran menjadi salah satu pintu masuk berkembangnya paham radikal. Oleh sebab itu, upaya pencegahan perlu dilakukan melalui penguatan wawasan kebangsaan, pendidikan yang menanamkan nilai toleransi, pemanfaatan media digital secara positif, serta pendampingan terhadap generasi muda baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
”Upaya pencegahan harus terus diperkuat dengan wawasan kebangsaan dan Pendidikan,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....