Tiga Minggu Kekeringan, DPRD Kepri Siapkan Solusi Cepat
- 27 Mar 2026 14:15 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Rudy Chua, menyiapkan langkah strategis untuk menanggulangi krisis air bersih yang melanda Pulau Bintan akibat musim kemarau. Hal tersebut disampaikannya dalam rapat koordinasi yang digelar di Kantor BMKG Stasiun Kelas III Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, Kamis, 26 Maret 2026.
Rudy Chua mengatakan, berdasarkan prediksi BMKG, masyarakat masih akan menghadapi masa kritis kekeringan selama tiga minggu ke depan sebelum curah hujan kembali normal pada pertengahan April 2026. Kondisi ini mendorong pihaknya untuk segera menyiapkan langkah penanganan jangka pendek guna memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi.
”Artinya masyarakat masih ada 3 minggu untuk mengalami kekeringan ini, tentu kita mencoba mencari solusi jangka pendek,” ujar Rudy Chua.
Sebagai solusi awal, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pelaku usaha kendaraan tangki air yang menjual air secara komersial. Koordinasi tersebut mencakup pembahasan terkait ketersediaan pasokan air hingga kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk mendukung operasional distribusi air ke masyarakat.
”Nanti kita coba cari suatu yang tidak menyalahkan aturan,” ucapnya.
Rudy menyebutkan, pertemuan teknis lanjutan dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 29 Maret 2026, di Hotel Pelangi. Pertemuan tersebut akan melibatkan PDAM Tirta Kepri dan perusahaan penyedia jasa angkutan air guna membahas mekanisme distribusi serta alokasi BBM bagi armada tangki.
Selain langkah jangka pendek, Rudy Chua juga menyiapkan strategi jangka panjang melalui percepatan interkoneksi Waduk Kawal. Pada tahun 2026, pembangunan jaringan pipa sepanjang lima kilometer mulai dilaksanakan dan akan dilanjutkan hingga mencapai total 21 kilometer pada tahun berikutnya.
Rudy menargetkan, pada tahun 2028 permasalahan air bersih di Pulau Bintan dapat teratasi secara menyeluruh. Program tersebut diharapkan mampu menjangkau sekitar 10 ribu pelanggan baru yang akan mendapatkan akses air bersih.
”Sehingga permasalahan air ini paling tidak di 2028 itu sudah tuntas,” tuturnya.
Rudy menegaskan, pembangunan jaringan pipa harus diimbangi dengan kesiapan Instalasi Pengolahan Air (IPA) agar sistem dapat langsung berfungsi optimal saat selesai dibangun. Upaya ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan dalam menghadapi potensi krisis air di masa mendatang.
”Jangan sampai pipanya sudah siap nanti menunggu IPA-nya lagi,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....