Literasi diukur dari Cara Memahami Bacaan yang Dibaca

  • 23 Feb 2026 12:40 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Permasalahan utama dalam literasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) saat ini bukanlah terkait dengan buta aksara. Namun, kepada hal yang lebih kompleks lagi yaitu memahami dan mengimplementsikan bahan bacaan kedalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat Kepri, Harken mengatakan berdasarkan survei pada tahun 2023 tingkat kegemaran membaca masyarakat Kepri di urutan 23 dari 34 Provinsi. Tahun 2024 meningkat signifikan diurutan ke 7 nasional.

Menurutnya, tingkat literasi bukan diukur dari angka-angka, namun bagaimana bahan bacaan yang dibaca dapat diimplementasikan dan dipahami. Dengan tujuan akhirnya meningkatkan kesejehteraan masyarakat itu sendiri.

“Banyak orang membaca, tetapi tidak memahami apa yang dibaca. Hal ini sering terjadi,” ucap Harken, Senin 23 Februari 2026.

Dicontohkannya, dalam kehidupan sehari-hari sudah ada tanda larangan membuang sampah sembarangan. Ditempat tersebut masih banyak sampah berserakan.

“Ini bukan, karena orang tidak bisa membaca, tetapi mereka tidak memahami apa yang dibaca. Ini permasalahan utama kita,” tuturnya.

Selain itu, tingkat literasi bukan hanya dilihat dari banyaknya bacaan atau buku yang dibaca. Dilihat dari perubahan prilaku yang diharapkan dari membaca.

Ada perubahan prilaku, ada ruang diskusi yang dibangun, peningkatan kreativitas dan lahirnya solusi terhadap permasalahan sosial di masing-masing tempat. “Inti dari literasi, sekali lagi bukan soal banyaknya bacaan, tetapi banyaknya perubahan prilaku, itu yang penting,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....