Pendidikan Multibahasa Kunci Generasi Emas 2045

  • 20 Feb 2026 07:57 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Pendidikan multibahasa dinilai sebagai kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan tambahan dalam sistem pendidikan nasional. Hal ini krusial dalam menyiapkan Generasi Emas 2045 yang adaptif, kompetitif, namun tetap memiliki akar budaya yang kuat.

Ketua Pengurus Wilayah (PW) Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kepulauan Riau, Harken, mengatakan, pendidikan multibahasa memberikan ruang bagi peserta didik untuk menguasai lebih dari satu bahasa secara sistematis. Menurutnya, bahasa adalah alat berpikir yang memperluas cakrawala pandangan anak terhadap dunia.

"Semakin kaya penguasaan bahasa seorang anak, semakin luas cara pandangnya,” ujar Harken, Kamis, 19 Februari 2026.

Harken menjelaskan, untuk mengatasi kekhawatiran penguatan bahasa asing yang dapat mengancam kelestarian bahasa daerah, maka perlu keseimbangan antara tiga pilar bahasa. Yaitu bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai penguat nasionalisme, bahasa daerah sebagai penjaga akar budaya, dan bahasa asing sebagai instrumen ekonomi global.

"Ketiganya adalah satu kesatuan, jangan sampai bahasa asing menggerus bahasa ibu, justru harus saling menguatkan," ucapnya.

Harken menyebutkan, semangat literasi masyarakat Kepri Tinggi, namun ketersediaan bahan bacaan multibahasa di TBM masih memerlukan dukungan berbagai pihak. Saat ini, koleksi buku mayoritas didominasi oleh bahasa Indonesia melalui dukungan rutin dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

"Kami berharap pemerintah memperkuat ekosistem dengan penyediaan buku bermutu yang mendukung kelas literasi multibahasa secara sistematis," tuturnya.

Ia menambahkan, mengingat posisi Kepri sebagai wilayah perbatasan dan kawasan strategis internasional. Forum TBM Kepri terus berupaya menjadi ruang penguatan multibahasa melalui Penyediaan bahan bacaan dalam berbagai bahasa, Pembukaan kelas literasi bahasa asing berbasis komunitas serta Pelestarian sastra dan cerita rakyat daerah untuk menjaga bahasa ibu.

"Maka Indonesia Emas 2045 bukan sekadar cita-cita, melainkan sebuah keniscayaan," katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....