Rajabbul Amin Soroti Krisis Maskulinitas Religius
- 03 Mar 2026 08:36 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Dua peristiwa kekerasan terhadap perempuan yang terjadi pada Bulan Suci Ramadan memantik keprihatinan mendalam dari kalangan akademisi. Peneliti gender, Rajabbul Amin, menilai kasus tersebut mencerminkan krisis maskulinitas religius serta kegagalan memahami makna spiritual Ramadan secara substantif. Peristiwa pertama itu terjadi di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Seorang perempuan berusia 58 tahun meninggal dunia akibat tindak kekerasan yang dilakukan suaminya sendiri. Selanjutnya, di sebuah universitas di Pekanbaru, Provinsi Riau, seorang mahasiswi menjadi korban serangan terencana oleh rekan seangkatannya karena pelaku tidak menerima penolakan dalam relasi asmara.
“Kekerasan ini terjadi di bulan yang secara spiritual dimaknai sebagai momentum pengendalian diri dan penumbuhan empati. Ini adalah ironi yang harus kita renungkan bersama,” ujar Rajabbul Amin, Selasa, 3 Maret 2026.
Menurut Rajabbul, kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dilihat sebagai tindakan individual semata, melainkan bagian dari struktur sosial yang timpang. Ia mengutip pemikiran Simone de Beauvoir yang menyatakan, “One is not born, but rather becomes, a woman.”
"Pernyataan itu menegaskan bahwa posisi perempuan dibentuk oleh konstruksi sosial, bukan semata kodrat biologis. Konstruksi ini sering kali terjadi dalam konteks kekerasan yang menyebabkan ketimpangan kuasa, yang membuat perempuan rentan menjadi korban ketika mereka berusaha mempertahankan autonomi,” ucapnya.
Rajabbul juga menilai alasan emosional seperti cemburu atau sakit hati sering dipakai untuk membenarkan tindakan agresif. Padahal, menurutnya, hal itu mencerminkan krisis maskulinitas. Ia merujuk pada pandangan bell hooks yang menyatakan, “Patriarchy has no gender.”
“Patriarki adalah sistem nilai yang membuat dominasi terasa wajar. Dalam konteks ini, kita menyaksikan bagaimana hubungan pribadi berubah menjadi arena kekuasaan yang mengarah pada kekerasan baik di rumah maupun di kampus,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyoroti kontradiksi antara nilai Ramadan dan praktik sosial yang terjadi. Ia mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar ritual, melainkan latihan etika untuk menahan amarah dan mengendalikan hasrat agresif. Dalam berbagai riwayat, Nabi Muhammad menekankan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan menahan amarah.
“Jika kekerasan justru meningkat di bulan suci, berarti ada jarak antara kesalehan ritual dan kesalehan relasional. Masalahnya bukan pada ajaran agama, tetapi pada tafsir sosial yang bias dan patriarkal,” katanya.
Di dalam sejarah Islam awal menunjukkan peran perempuan yang kuat dan otonom. Ia menyebut Khadijah binti Khuwailid sebagai pengusaha tangguh yang menopang dakwah, Aisyah binti Abu Bakar sebagai intelektual dan rujukan hukum, serta Nusaibah binti Ka'ab yang dikenal berani membela komunitasnya.
“Jejak historis ini menegaskan bahwa Islam membawa spirit transformasi sosial yang memuliakan perempuan, bukan membungkamnya,” katanya.
Ia menilai penegakan hukum terhadap pelaku memang penting, tetapi tidak cukup untuk mencegah kekerasan serupa terulang. “Diperlukan pendekatan kultural dan edukatif yang sistematis. Pendidikan relasi setara sejak dini, kebijakan kampus yang responsif terhadap kekerasan berbasis gender, serta penguatan layanan perlindungan korban di ranah domestik harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Rajabbul juga mendorong para tokoh agama untuk menyampaikan pesan yang lebih tegas tentang kesetaraan dan anti-kekerasan. “Mimbar keagamaan perlu menegaskan bahwa kepemimpinan tidak identik dengan dominasi, dan cinta tidak pernah sah menjadi alasan untuk melukai,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....