Salat Penentu Identitas, Hoaks Bisa Hancurkan Pahala Ibadah

  • 25 Feb 2026 12:44 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Pesan keras dan tajam menggema dari mimbar Ramadan. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungpinang, Erizal, menegaskan bahwa salat bukan sekadar ibadah ritual, melainkan garis pembeda identitas seorang Muslim dengan non-Muslim.

Pernyataan itu disampaikan dalam tausiah di Masjid Al Falah, Jalan Usman Harun, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Tanjungpinang, Selasa 24 Februari 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari safari Ramadan perdana Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau yang dihadiri Kepala Kanwil Zoztafia, jajaran eselon III, ASN Kanwil dan Kemenag Kota Tanjungpinang, tokoh agama, serta masyarakat setempat.

Di hadapan para pejabat dan jemaah, Erizal menyampaikan narasi tegas: seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat otomatis memikul kewajiban salat. Ia mengingatkan, setelah syahadat, umat Islam wajib mengenal agamanya secara utuh.

“Syahadat itu punya konsekuensi. Kita bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah. Maka kewajiban berikutnya adalah salat. Inilah yang membedakan kita dengan yang bukan Muslim,” tegasnya.

Pendidikan agama dalam keluarga disebutnya sebagai benteng utama agar generasi tidak kehilangan identitas spiritual. Menurutnya, kegagalan orang tua mengenalkan salat dan Al-Qur’an kepada anak merupakan alarm serius bagi masa depan umat.

Dalam tausiahnya Erizal menekankan bahwa seluruh amal ibadah seperti puasa, zakat, infak, hingga haji tidak akan sempurna tanpa salat. Erizal dalam kesempatan ini juga mengingatkan agar umat tidak lalai maupun menyepelekan salat karena ibadah tersebut merupakan bentuk ketaatan langsung kepada Allah SWT.

“Kalau ingin masuk surga, berbuatlah yang baik. Puasa, zakat, infak, haji bagi yang mampu. Tapi jangan lupa, kuncinya ada di salat. Salat itu tiang agama dan yang pertama dihisab oleh Allah,” ujarnya.

Tidak hanya soal salat, Erizal menyoroti fenomena sosial modern: penyebaran berita bohong atau hoaks di media sosial. Ia menilai, puasa sejatinya adalah latihan pengendalian diri, termasuk menjaga lisan dan informasi yang disebarkan.

“Orang yang suka menyebarkan berita bohong, menjadi provokator, walaupun berpuasa bisa jadi hanya mendapatkan lapar dan haus saja,” katanya.

Ia pun mengibaratkan penyebar hoaks seperti mencabut bulu ayam yang beterbangan dan mustahil dikumpulkan kembali yang dampaknya bisa panjang hingga akhirat. Selain konsekuensi moral dan agama, Erizal juga mengingatkan adanya sanksi hukum melalui Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) bagi penyebar hoaks.

Menutup tausiah, Erizal kembali menegaskan bahwa puasa dan salat memiliki keterkaitan kuat antara hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah) dan hubungan manusia dengan sesama (habluminannas). Tak lupa, dalam tausiahnya Erizal juga menyampaikan apresiasi kepada lembaga zakat seperti Baznas dan LAZ Batam Kepri yang konsisten membantu kaum dhuafa dan anak yatim.

“Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan diri dari mengambil hak orang lain, menjaga perilaku, serta meningkatkan martabat manusia,” tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....