Puasa Momentum Menghancurkan Dosa dan Membangun Revolusi Ibadah

  • 20 Feb 2026 14:25 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan menyelimuti Masjid Nur Al Weini, Kamis malam 19 Februari 2026. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungpinang Erizal, menyampaikan ceramah agama pada malam kedua Ramadan 1447 Hijriah.

Di hadapan ratusan jemaah, ia menegaskan pesan tajam: Ramadan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum strategis untuk membersihkan dosa sekaligus membangun kebiasaan ibadah yang konsisten sepanjang hayat. Mengusung tema “Keutamaan Bulan Suci Ramadan”, Erizal membuka tausiah dengan mengingatkan bahwa kegembiraan umat Islam menyambut Ramadan memiliki dasar kuat secara spiritual.

Bulan suci ini, merupakan ruang besar bagi setiap Muslim untuk memperbaiki diri dan meraih ampunan Allah SWT. Ramadan sangat dinantikan karena begitu banyak kebaikan di dalamnya.

“Kita semua punya dosa, dan Ramadan adalah kesempatan untuk menghapus serta menghancurkan dosa-dosa kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keistimewaan Ramadan terletak pada nilai pahala yang dilipatgandakan. Bahkan satu huruf Al-Qur’an yang dibaca akan diganjar sepuluh kebaikan, dan pada Ramadan balasan tersebut meningkat berkali-kali lipat. Tidak hanya itu, Erizal mengingatkan adanya satu malam istimewa yang menjadi puncak kemuliaan Ramadan, yakni Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

“Keutamaan Ramadan luar biasa. Satu huruf saja yang kita baca pahalanya berlipat. Apalagi ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Manfaatkan sisa umur kita selagi diberi kesehatan,” pesannya.

Dalam ceramahnya, Erizal juga menyoroti persoalan klasik umat Islam saat beribadah, yakni rasa malas. Ia mengajak jemaah menjadikan Ramadan sebagai titik balik perubahan karakter, terutama dalam menjaga kebiasaan positif seperti salat berjemaah, tilawah Al-Qur’an, zikir, dan doa.

Menurutnya, kebiasaan baik yang terus diulang selama Ramadan berpotensi menjadi karakter permanen yang berdampak pada kehidupan setelah bulan suci berakhir. Antusiasme jemaah terlihat jelas dari padatnya saf di dalam masjid, mencerminkan semangat masyarakat dalam menghidupkan malam-malam Ramadan dengan kegiatan keagamaan.

“Mari makmurkan masjid, perbanyak zikir dan doa. Lawan rasa malas kita. Jika kebiasaan baik ini sering dilakukan, insyaallah akan menjadi jalan kebaikan bagi hidup kita,” katanya.

Selain membahas keutamaan Ramadan, Erizal juga mengingatkan jemaah mengenai hal-hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan dan minum dengan sengaja, muntah disengaja, serta hubungan suami istri di siang hari. Namun ia menekankan, substansi puasa jauh lebih dalam daripada sekadar menahan lapar dan dahaga.

Menurutnya, banyak orang berpuasa secara fisik tetapi tidak memperoleh nilai pahala karena tidak menjaga perilaku. Dalam ceramah yang disamapaikan, Erizal mengajak umat Islam menjaga pandangan dari hal-hal yang merusak ibadah, menahan lisan dari ucapan tidak bermanfaat serta menjaga tangan dan jemari dari perbuatan yang melanggar hak orang lain, termasuk menyebarkan informasi hoaks di media sosial.

“Berpuasa itu bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari segala sesuatu yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa kita. Ada orang yang berpuasa, tetapi yang didapat hanya lapar dan haus,” tegasnya.

Malam kedua Ramadan di Masjid Nur Al Weini menjadi pengingat kuat bahwa bulan suci bukan hanya ritual tahunan, tetapi momentum revolusi spiritual. Ramadan adalah kesempatan memperbanyak amal, memperkuat iman sekaligus menata kembali arah kehidupan menuju ridha Ilahi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....