Menteri PPPA: Permainan Tradisional Solusi Redam Dampak Media Sosial
- 23 Jul 2026 15:37 WIB
- Tanjungpinang
RRI. CO. ID, Tanjungpinang - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, menghadiri Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 di Lapangan Tugu Sirih, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Acara bertema "Sayang Anak, Lindungi, Bangun Masa Depan" ini diinisiasi oleh Organisasi Seruni berkolaborasi dengan kementerian terkait untuk memberikan akses seluas-luasnya bagi calon pemimpin masa depan, Kamis, 23 Juli 2026.
Dalam kegiatan tersebut, perwakilan anak membacakan 12 poin Suara Anak Indonesia yang dirumuskan secara berjenjang dari tingkat desa hingga 38 provinsi. Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan bahwa poin-poin aspirasi ini tidak hanya didengar, tetapi anak-anak akan didampingi langsung untuk menyampaikan rekomendasinya kepada menteri-menteri terkait.
"Aspirasi nanti akan kita rekomendasi kepada menteri-menteri terkait," kata Arifatul Choiri Fauzi.

Arifatul menjelaskan sejak tahun 2025, peringatan Hari Anak Nasional mulai diterapkan secara desentralisasi hingga ke tingkat daerah dan desa. Langkah ini bertujuan untuk menjangkau lebih banyak anak sekaligus membangun kesadaran kolektif orang tua dalam menghadapi tantangan pengasuhan zaman sekarang.
"Hari Anak ini sudah diterapkan dari desa sejak tahun 2025, langkah ini bertujuan membangun kesadaran kolektif, " ujarnya.
Guna mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget, Kementerian PPPA menggalakkan kembali berbagai permainan rakyat berbasis kearifan lokal. Pendekatan ini dinilai menjadi solusi nyata tanpa harus melarang secara kaku aktivitas anak di media sosial.
"Pendekatan ini merupakan solusi nyata tanpa harus membatasi aktivitas anak, " ucapnya.
Menurut Arifatul, permainan tradisional memiliki nilai filosofi yang tinggi serta mendorong interaksi sosial secara langsung. Aktivitas fisik ini melatih anak untuk belajar mengantre, menjunjung kejujuran, dan saling menghargai satu sama lain.
Selain itu, permainan tradisional secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai Pancasila seperti keberagaman dan kebersamaan tanpa memandang latar belakang. Pola bermain ini efektif membangun karakter inklusif serta rasa kolektivitas anak sejak dini.
"Permainan tradisional ini menanamkan nilai-nilai Pancasila tanpa memandang latar belakang, " katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....