Kritis dan Apatis Menurut Penelitian
- 10 Jan 2025 15:14 WIB
- Tanjungpinang
KBRN, Tanjungpinang: Kritis dan apatis adalah dua sikap yang sangat berbeda dalam merespons keadaan. Kritis melibatkan analisis, pertanyaan, dan aksi, sedangkan apatis mencerminkan sikap acuh tak acuh yang bisa berbahaya bagi kemajuan masyarakat.
"Berat memang menjadi mahasiswa, karena ketika kita diam dibilang apatis, tetapi ketika kita berbicara dibilang sok kritis," ucap Ilham Bani Arrasyid, maasiswa STAIN SAR Kepri, Jumat (10/1/2025).
Penelitian berjudul Apathy and Its Relationship with Depression and Social Isolation: A Systematic Review, oleh H. T. Chang, L. A. S. Hill, D. A. S. Johnson membahas hubungan antara apatis dengan kondisi psikologis seperti depresi dan isolasi sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa apatisme sering ditemukan pada individu yang mengalami depresi berat dan kurangnya hubungan sosial yang sehat.
Penelitian ini adalah sebuah systematic review yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis hubungan antara apatisme, depresi, dan isolasi sosial. Apatisme didefinisikan sebagai kehilangan minat atau perasaan tidak peduli terhadap kehidupan dan lingkungan sekitar, yang sering kali disertai dengan penurunan motivasi dan energi.
Banyak penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara apatisme dan depresi, terutama dalam konteks gangguan afektif. Depresi sering kali menyebabkan individu kehilangan minat pada kegiatan yang biasanya mereka nikmati, yang merupakan gejala utama dari apatisme.
Penelitian ini menekankan bahwa apatisme yang tidak diatasi dapat memperburuk kondisi kesehatan mental secara keseluruhan. Hal ini berisiko meningkatkan masalah psikologis lainnya, seperti kecemasan dan stres.
Penelitian berjudul Critical Thinking and the Development of Independent Learning, berjudul R. P. Paul, L. Elder menjelaskan pentingnya keterampilan berpikir kritis dalam konteks pendidikan. Berpikir kritis dianggap sebagai kunci untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis informasi secara objektif dan membuat keputusan yang lebih baik.
Penelitian ini berfokus pada hubungan antara keterampilan berpikir kritis dengan kemampuan siswa untuk belajar secara mandiri dan efektif. Dengan meningkatnya kebutuhan untuk mengembangkan pembelajar yang dapat bekerja secara mandiri dan berpikir secara kritis, penulis menekankan bahwa kedua keterampilan ini saling berhubungan dan sangat penting untuk keberhasilan akademik dan profesional.
Berpikir kritis tidak hanya berperan dalam pendidikan formal, tetapi juga sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan pengambilan keputusan di dunia profesional. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan ini sejak dini dalam pendidikan akan membekali siswa dengan keterampilan yang sangat berguna di masa depan, baik dalam konteks akademik maupun profesional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....