Nomophobia, Kecemasan Berlebih saat Jauh dari Ponsel
- 13 Agt 2026 17:51 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Ponsel kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari berkomunikasi, bekerja, belajar, hingga mengakses berbagai layanan digital. Namun, keterikatan yang terlalu besar terhadap perangkat tersebut dapat memunculkan kecemasan ketika seseorang tidak dapat menggunakannya atau harus berjauhan dari ponsel.
Dilansir dari jurnal PLOS ONE, nomophobia merupakan kondisi ketika seseorang merasa cemas atau takut karena tidak dapat mengakses telepon seluler, kehilangan koneksi, atau tidak dapat berkomunikasi melalui perangkat digital. Tinjauan tersebut juga menunjukkan bahwa kondisi ini lebih sering ditemukan pada kelompok usia muda yang memiliki intensitas penggunaan ponsel lebih tinggi.
Nomophobia bukan sekadar rasa tidak nyaman ketika ponsel tertinggal atau kehabisan baterai, tetapi dapat menjadi bentuk kecemasan yang memengaruhi pikiran dan perilaku seseorang. Kondisi ini sering ditandai dengan kebiasaan memeriksa ponsel secara berulang, merasa gelisah ketika tidak mendapatkan notifikasi, atau sulit berkonsentrasi tanpa keberadaan perangkat digital.
Penelitian dalam Psychiatry Research menunjukkan nomophobia berkaitan dengan berbagai dampak psikologis dan perilaku, seperti meningkatnya kecemasan, stres, gangguan konsentrasi, serta penurunan kualitas hidup. Kajian tersebut juga menjelaskan bahwa penggunaan ponsel secara berlebihan dan hubungan yang tidak seimbang dengan teknologi menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kondisi tersebut.
Perkembangan teknologi memang memberikan banyak manfaat, tetapi penggunaan ponsel yang tidak terkendali dapat membuat seseorang semakin terikat pada dunia digital. Ketika waktu penggunaan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, maupun waktu istirahat, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa pola penggunaan perangkat perlu dievaluasi.
Untuk mencegah keterikatan berlebihan terhadap ponsel, setiap orang dapat mulai menerapkan kebiasaan digital yang lebih sehat, seperti membatasi waktu penggunaan layar, mengatur waktu tanpa gawai, serta memperbanyak aktivitas langsung bersama keluarga maupun lingkungan sekitar. Langkah sederhana tersebut membantu seseorang tetap memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain mengatur durasi penggunaan, kesadaran terhadap kebutuhan untuk selalu terhubung juga penting diperhatikan. Tidak semua pesan, notifikasi, atau informasi digital harus segera mendapatkan respons karena tubuh dan pikiran tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat dari paparan teknologi.
Ponsel seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan sesuatu yang mengendalikan kebiasaan manusia. Dengan penggunaan yang lebih bijak dan seimbang, setiap orang dapat memperoleh manfaat teknologi sekaligus menjaga kesehatan mental, konsentrasi, dan kualitas hubungan sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....