Pendidikan yang Memerdekakan: Warisan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

  • 02 Mei 2026 07:53 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari gagasan besar tentang kemerdekaan manusia dalam berpikir, berkarakter, dan bertindak. Konsep ini merupakan warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang hingga kini masih menjadi fondasi arah pendidikan nasional.

Dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Pendidikan” (Majalah Taman Siswa, 1936), Ki Hadjar Dewantara, menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat.

Dari pemikiran tersebut, pendidikan tidak dipahami sebagai proses pemaksaan pengetahuan. Melainkan sebagai upaya membimbing agar potensi setiap anak dapat tumbuh secara alami sesuai kodratnya.

Dalam sistem pendidikan Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara memperkenalkan konsep sistem among yang berlandaskan “asah, asih, asuh”. Guru tidak memaksa, tetapi membimbing, memberi teladan, serta mendorong perkembangan peserta didik dengan penuh kebebasan yang bertanggung jawab.

Peran guru kemudian dirumuskan dalam semboyan “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Maknanya guru menjadi teladan di depan, penggerak semangat di tengah, dan pemberi dorongan dari belakang.

Lebih lanjut, dalam konsep Tri Kon, Ki Hadjar Dewantara, menekankan bahwa pendidikan harus berakar pada budaya sendiri (konsentris), terbuka terhadap perkembangan dunia (konvergensi), dan berjalan secara berkesinambungan (kontinuitas). Prinsip ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh tercerabut dari identitas bangsa, tetapi tetap adaptif terhadap perubahan global.

Dalam konteks pendidikan saat ini, gagasan pendidikan yang memerdekakan menjadi semakin relevan. Pendidikan dituntut untuk tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kemandirian, dan kepekaan sosial peserta didik.

Namun demikian, praktik pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Mulai dari orientasi terhadap nilai yang berlebihan, beban administratif, hingga kesenjangan akses dan kualitas pendidikan di berbagai wilayah.

Oleh karena itu, pendidikan yang memerdekakan perlu terus dihidupkan sebagai prinsip utama. Warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati adalah yang memanusiakan manusia secara utuh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....