Pendidikan Multibahasa Menjawab Tantangan Global menuju Indonesia Emas 2045

  • 21 Feb 2026 11:33 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Pendidikan multibahasa adalah pendekatan pembelajaran yang mendorong penguasaan lebih dari satu bahasa secara terstruktur. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa daerah sebagai identitas budaya, serta bahasa asing sebagai alat komunikasi global.

Ketua Pengurus Wilayah Forum TBM Kepulauan Riau, Harken, mengatakan dalam era globalisasi, penguasaan bahasa asing membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, diplomasi, dan pasar internasional. Namun pada saat yang sama, penguatan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah menjaga identitas nasional agar tidak tergerus arus global.

"Keseimbangan inilah yang menjadi kunci, generasi yang berpikir global tanpa kehilangan akar budaya," ucap Harken, Sabtu, 21 Februari 2026.

Indonesia berada di kawasan strategis, berdekatan dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi seperti Singapura dan Malaysia. Mobilitas tenaga kerja, investasi, dan kerja sama regional menuntut sumber daya manusia yang mampu berkomunikasi lintas bahasa dan budaya.

Selain itu, perkembangan teknologi digital membuat batas negara semakin kabur. Informasi, peluang kerja, hingga pendidikan tinggi kini dapat diakses secara global. Tanpa kemampuan bahasa yang memadai, generasi muda Indonesia berisiko menjadi penonton di negeri sendiri.

Berbagai studi menunjukkan bahwa anak yang terbiasa dengan lebih dari satu bahasa memiliki fleksibilitas kognitif yang lebih baik, kemampuan problem solving yang lebih kuat, serta daya adaptasi sosial yang lebih tinggi. Pendidikan multibahasa bukan hanya soal kemampuan berbicara, tetapi tentang membentuk pola pikir terbuka dan adaptif.

"Generasi Emas 2045 membutuhkan karakter seperti ini, kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif," tuturnya.

Sekolah memang menjadi ruang utama pendidikan, tetapi penguatan literasi bahasa juga harus melibatkan komunitas. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dapat menjadi laboratorium sosial untuk praktik multibahasa melalui, Penyediaan buku bacaan dalam berbagai bahasa, Kelas percakapan bahasa asing berbasis komunitas, Pelestarian sastra dan cerita rakyat daerah dan Diskusi lintas budaya bagi generasi muda.

Pendekatan berbasis komunitas menjadikan bahasa tidak hanya dipelajari secara akademik, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan multibahasa adalah investasi strategis bangsa, karena Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir dari generasi yang hanya mampu berbicara dalam satu ruang bahasa.

"Kita membutuhkan generasi yang menguasai Bahasa Indonesia dengan baik sebagai identitas nasional, menjaga bahasa daerah sebagai akar budaya, serta fasih berbahasa asing sebagai jembatan global," ucapnya.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan agar globalisasi tidak menggerus jati diri bangsa. Multibahasa bukan berarti kehilangan identitas.

Justru sebaliknya, semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin kuat rasa percaya diri kita sebagai bangsa. Generasi Kepri misalnya, hidup di wilayah perbatasan Mereka harus siap berinteraksi secara internasional tanpa kehilangan kebanggaan terhadap budayanya.

Harken mendorong kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan komunitas literasi. Forum TBM siap menjadi mitra strategis dalam memperkuat literasi bahasa berbasis komunitas.

"Pendidikan multibahasa harus menjadi gerakan bersama bukan hanya program sekolah, tetapi budaya belajar masyarakat", ucapnya.

Indonesia Emas 2045 bukan sekadar visi ekonomi, tetapi cita-cita peradaban. Pendidikan multibahasa adalah salah satu fondasi penting untuk membangun generasi yang cerdas, adaptif, berkarakter, dan berdaya saing global.

Bahasa adalah jendela dunia, tetapi juga cermin identitas. Jika dikelola dengan tepat, pendidikan multibahasa akan menjadi jawaban atas tantangan global dan mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang maju tanpa kehilangan jati dirinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....