Pomade, Gaya Rambut Klasik Tak Lekang oleh Waktu

  • 13 Agt 2025 13:45 WIB
  •  Tanjungpinang

KBRN, Tanjungpinang: Pomade, produk penata rambut yang identik dengan kilau dan tatanan rapi, memiliki sejarah panjang yang berakar sejak abad ke-18. Kini, pomade bukan hanya sekadar produk penata rambut, tetapi juga bagian dari budaya grooming pria.

Melansir dari situs repository.un-sska.ac.id, kata pomade berasal dari bahasa Prancis pommade yang berarti "salep", merujuk pada ramuan berbasis lemak hewani atau minyak yang awalnya digunakan untuk melembutkan rambut. Pada masa itu, pomade dibuat dari lemak beruang atau babi yang dicampur dengan aroma bunga, sehingga selain menata, juga memberi wangi khas pada rambut penggunanya.

Memasuki awal abad ke-20, pomade mulai diproduksi secara komersial dan populer di kalangan pria Eropa dan Amerika. Formula berbasis petroleum jelly mulai menggantikan lemak hewani, membuat pomade lebih tahan lama dan memberikan kilau khas. Gaya rambut ikonik seperti slick back, pompadour, dan side part menjadi simbol maskulinitas dan kerapian, terutama pada era 1920-an hingga 1950-an, berkat pesohor seperti Elvis Presley dan James Dean.

Namun, kejayaan pomade sempat meredup pada tahun 1960-an hingga 1980-an ketika gaya rambut alami dan produk berbasis gel menjadi tren. Banyak pria mulai meninggalkan pomade karena dianggap terlalu berminyak dan sulit dibersihkan. Meski begitu, komunitas rockabilly dan penggemar gaya retro tetap setia mempertahankan penggunaan pomade, menjaga tradisi tersebut tetap hidup di kalangan tertentu.

Kebangkitan pomade terjadi pada awal 2000-an ketika tren vintage dan barber shop revival merebak di seluruh dunia. Produsen modern mulai mengembangkan pomade berbahan dasar air yang lebih mudah dicuci, namun tetap mempertahankan daya rekat dan kilau klasik. Perpaduan inovasi dan nostalgia ini membuat pomade kembali menjadi primadona di kalangan pria muda hingga dewasa.

Dari panggung musik rockabilly hingga kantor-kantor modern, pomade terus mempertahankan pesonanya sebagai simbol gaya, kerapian, dan percaya diri. Sejarah panjangnya membuktikan bahwa tren boleh berganti, tetapi gaya klasik akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....