"Luti Gendang" Jajanan lokal sebagai Pustaka Budaya Kepri
- 28 Jan 2026 15:13 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Di tengah hiruk-pikuk modernitas kota-kota di Kepulauan Riau, sebuah aroma gurih menyeruak dari dapur-dapur produksi roti tradisional. Aroma itu berasal dari Luti Gendang, sebuah kudapan lonjong berlapis warna cokelat keemasan yang kini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan telah bertransformasi menjadi objek literasi yang menarik.
Melalui pelestarian budaya masyarakat diajak untuk membaca Luti Gendang bukan hanya sebagai komoditas rasa, melainkan sebagai sebuah artefak yang menyimpan kecerdasan sains dan narasi sejarah panjang masyarakat bahari. Selama ini, literasi sering kali hanya diidentikkan dengan aktivitas membaca teks di dalam buku atau perpustakaan.
Namun, perspektif berbeda muncul dari kalangan pegiat TBM di Bumi Bunda Tanah Melayu. Literasi kuliner kini dipandang sebagai cara efektif untuk memahami jati diri bangsa.
Ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forun TBM) Kepulauan Riau, Harken, mengatakan bahwa sudah saatnya literasi merambah ranah kontekstual. Literasi adalah kemampuan membaca keadaan, lingkungan, dan warisan nenek moyang, Luti Gendang, dalam hal ini, adalah sebuah pustaka berjalan.
"Kita tidak boleh membiarkan literasi terpenjara dalam definisi yang kaku.," ujar Harken, 28 Januari 2026.
Forum TBM di Kepulauan Riau memiliki visi besar untuk menjadikan kuliner lokal sebagai pintu masuk minat baca anak-anak. "Bayangkan jika anak-anak kita di TBM tidak hanya belajar membaca abjad, tapi juga membaca sejarah di balik nama 'Luti',” tuturnya.
Mereka akan belajar tentang toleransi, akulturasi, dan betapa cerdasnya orang-orang Kepulauan Riau terdahulu dalam menyikapi keterbatasan. Secara etimologi, Luti Gendang menyimpan rahasia literasi sejarah yang kuat mengenai kerukunan etnis.
Nama "Luti" diyakini lahir dari interaksi antara masyarakat Melayu dan warga keturunan Tionghoa di Kabupaten Kepulauan Anambas. Lidah masyarakat Tionghoa kala itu sulit melafalkan huruf "R" pada kata "Roti", sehingga yang terdengar adalah "Luti".
Inilah yang disebut sebagai literasi sosiologis, Luti Gendang menjadi bukti otentik bahwa sejak berabad-abad silam, perbedaan etnis dan bahasa tidak menjadi penghalang untuk menciptakan harmoni, yang dalam hal ini mewujud dalam bentuk makanan. Sementara kata "Gendang" merujuk pada bentuknya yang menyerupai alat musik perkusi, menunjukkan betapa dekatnya kehidupan masyarakat kala itu dengan seni dan budaya.
Jika dibedah secara teknis, Luti Gendang adalah manifestasi dari literasi sains praktis yang luar biasa. Masyarakat pesisir Anambas dan Kepulauan Riau pada umumnya, telah mempraktikkan ilmu bioteknologi jauh sebelum istilah itu populer di laboratorium sekolah.
Pertama, pada proses pembuatan adonan yang melibatkan fermentasi ragi. Logika kimiawi bekerja saat ragi mengubah karbohidrat menjadi gas karbon dioksida, menciptakan tekstur roti yang empuk namun padat.
Kedua, yang paling menonjol adalah isi dari Luti Gendang itu sendiri. Berbeda dengan roti dari daerah daratan yang cenderung menggunakan isian basah, Luti Gendang menggunakan ikan (biasanya tuna atau tongkol) yang diolah menjadi abon kering dengan rempah-rempah pilihan.
Secara sains, ini adalah teknik pengawetan alami melalui metode low water activity atau pengurangan kadar air. Ikan yang dimasak hingga kering tidak memberikan ruang bagi bakteri pembusuk untuk berkembang biak.
Hal ini memungkinkan Luti Gendang tetap awet dan tidak basi meskipun dibawa dalam perjalanan laut berhari-hari antar-pulau. Ini adalah bentuk literasi bahari; sebuah pemahaman mendalam tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan kondisi geografis yang didominasi oleh lautan.
Namun, tantangan besar membentang di depan mata, Generasi Z dan Alfa di Kepulauan Riau kini lebih akrab dengan makanan cepat saji global daripada jajanan lokal mereka sendiri. Di sinilah peran Forum TBM menjadi krusial untuk terus berupaya membangun narasi.
“Jika sebuah resep hilang, kita hanya kehilangan satu jenis rasa. Tapi jika narasi dan sejarah di balik makanan itu hilang, maka kita kehilangan satu bab besar dalam identitas budaya kita," ucapnya.
Harapan besar, melalui gerakan literasi kuliner, anak-anak muda dapat melihat Luti Gendang sebagai produk yang keren dan sarat ilmu pengetahuan. Dengan begitu, muncul rasa bangga untuk melestarikan dan mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Pada akhirnya, melestarikan Luti Gendang adalah bagian dari upaya merawat literasi bangsa. Setiap gigitan Luti Gendang yang renyah di luar dan gurih di dalam adalah perjalanan melintasi waktu.
“Ia membawa pesan tentang bagaimana nenek moyang kita adalah ilmuwan pangan yang hebat, diplomat budaya yang luwes, dan masyarakat ekonomi yang mandiri,” katanya.
Mari kita jadikan jajanan pasar sebagai teman membaca, bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tapi juga untuk mencerdaskan akal budi. Karena dalam sebutir Luti Gendang, terdapat logika yang kuat, literasi yang luas, dan rasa yang melegitkan cinta kita pada tanah air.