Langkah Kecil, Warisan Besar: Anak Muda Melestarikan Seni
- 13 Des 2025 14:26 WIB
- Tanjungpinang
KBRN, Bintan: Di tengah gempuran musik pop, game online, dan media sosial, banyak anak-anak saat ini jarang mengenal dan menekuni budaya lokal Indonesia. Tari tradisional, musik daerah, dan topeng-topeng warisan leluhur seringkali hanya terlihat di buku atau layar gadget.
Namun, masih ada anak-anak yang menyalakan semangat budaya dalam diri mereka. Salah satunya Firman Aji Azra Sanjaya 9 tahun, asal Ponorogo. Sejak kecil, Firman jatuh cinta pada tari tradisional.
Panggung International Mask Festival yang berlangsung di Balai Kota Solo Surakarta tahun 2025 bakat dan dedikasinya membawa budaya lokal Indonesia bersinar di mata dunia. Berbeda dengan teman-temannya yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget atau game online, Firman memilih menari sebagai hobi utama.
“Mungkin keinginan sendiri ya, karena keinginan dari kecil sering nonton pertunjukan tari jadi menarik aja gitu,” kata Firman Aji Azra.
Ia mengaku, menari memberinya pengalaman yang tidak bisa didapat dari hobi lain kesempatan melihat dunia, berinteraksi dengan budaya lain, dan mengekspresikan diri melalui gerakan dan musik tradisional Firman menekuni tarian tradisional hampir setiap hari.

Firman Aji Azra bersama para penari topeng Reog Ponorogo saat melakukan gladi resik IMF 2025 di Balai Kota Surakarta (Foto: RRI/Renny)
Tidak hanya Firman, anak-anak lain pun menyalurkan semangat budaya lewat tarian. Salah satunya Herjuna Lelaki Anggoro, usia 13 tahun, dari Sanggar Semarak Candra Kirana.
Sejak kecil, Herjuna tertarik pada tari topeng, karena melalui tarian itu ia bisa mengekspresikan karakter yang ingin diperankan dari topeng yang dikenakan. Berbeda dengan teman-temannya yang punya hobi lain, Herjuna justru merasa bangga menjadi penari.
Meski sering mendapat ejekan karena penari topeng identik dengan perempuan, ia tetap diam dan membiarkan aksi dan prestasinya berbicara. Bagi Herjuna, menari bukan sekadar kegiatan sehari-hari, tapi pengalaman berharga ikut hari-tari dunia, menari bersama kelompok besar, bekerja sama dengan teman-teman yang sebelumnya belum ia kenal.
“Ya kalau saya itu merasa bangga, meski kadang kadang sering di ejek banci, karena penari kan biasanya identik dengan perempuan,” ujarnya.
Meski menari tetap menjadi hobi, Herjuna menekuni tarian dengan serius. Ia menegaskan, hobi ini memberinya pengalaman, disiplin, dan kesempatan menunjukkan bahwa menari tidak hanya untuk perempuan, melainkan bisa menjadi wadah ekspresi bagi siapa pun yang mencintai budaya.
“Menari ini memang hobi, saya serius menjalaninya karena saya sangat cinta sama budaya ini,” ia menambahkan.

Herjuna Lelaki Anggoro (13 Th) penari topeng dari Sanggar Candra Kirana Kota Solo saat tampil di IMF 2025 (Foto: RRI/Renny)
Dukungan orang tua juga menjadi kunci semangat anak-anak ini. Yuli Wijayanti, ibu Herjuna, menceritakan awal ketika anaknya tertarik menari.
Awalnya ia sempat bertanya kepada guru dan pelatih apakah Herjuna mampu mengikuti pelajaran seni ini. Setelah diyakinkan bahwa anaknya memiliki bakat, Yuli pun mendukung penuh.
“Kalau saya yang terpenting anaknya senang dan bertanggung jawab dengan pilihannya, baik di dunia seni maupun di sekolah,” ucap Yuli Wijayanti.
Ia selalu mendampingi, memberi waktu dan dukungan, serta menekankan agar Herjuna tetap rendah hati meski meraih prestasi. Hingga kini, Herjuna memilih menari sebagai hobi, namun dengan semangat yang konsisten, selalu belajar dan berlatih untuk menjaga budaya yang dicintainya.
Namun, selain dukungan orang tua, kelangsungan dan perkembangan minat anak-anak pada seni tradisi juga sangat bergantung pada dukungan lembaga dan pemerintah.
Damasus Chrismas Verlananda Waskito, pelatih dan koreografer Sanggar Candra Kirana, menjelaskan bahwa selain melatih penari muda. Ia aktif meminta pemerintah untuk memberikan dukungan kepada sanggar-sanggar di Solo, agar mereka dapat terus berkembang dan melestarikan tarian tradisi.
“Masukannya sih, memfasilitasi dan memberikan ruang bagi sanggar-sanggar yang ada di Kota Solo yang jumlahnya banyak,” kata Damas.
Menurutnya, dukungan ini penting tidak hanya untuk penyediaan ruang dan fasilitas. Tetapi juga untuk menyelenggarakan event-event berbasis festival atau pentas yang melibatkan berbagai sanggar.
“Dengan adanya dukungan pemerintah, penari muda bisa bertukar pengalaman, menampilkan karya dan menjaga kelestarian lokal,” ucapnya.

Penampilan Sanggar Candra Kirana sebagai tari pembuka di event International Mask Festival 2025 (Foto: RRI/Renny)
Menyikapi semangat anak-anak menekuni budaya, Walikota Surakarta, Respati Ardi, menjelaskan bahwa Pemerintah Kota telah menyiapkan roadmap kegiatan budaya tahunan.
Kalender event dan agenda wajib ini sengaja dirancang untuk melestarikan warisan budaya sekaligus menanamkan pendidikan budaya sejak usia dini. Mulai dari SD hingga SMA, anak-anak belajar muatan lokal, seperti, Gamelan, tari tradisional, dan berbagai seni budaya lainnya.
Langkah ini memastikan generasi muda tidak hanya memiliki akses untuk mengenal warisan leluhur, tetapi juga mendapat ruang dan kesempatan untuk melestarikannya, sehingga budaya lokal tetap hidup dan berkembang di tangan mereka.
“Dalam roadmap satu tahun, kami punya calender event dan mandatory event yang hari ini diperkenalkan,” kata Respati Ardi.
Dikatakannya, untuk menjaga Kota Surakarta, salah satunya adalah menyelesaikan program budaya yang ada. Penyesuaian ini dilakukan menyusul pemangkasan dana transfer dari pusat hingga Rp200 miliar.
“Kemudian muatan lokal pelajaran budaya sekolah bahkan perguruan tinggi, kita akan terus lestarikan, seperti, Gamelan dan lain-lain,” ucapnya.
Dengan dukungan dari keluarga, bimbingan pelatih, serta perhatian Pemerintah Kota, anak-anak penari, seperti. Firman dan Herjuna, tidak hanya menekuni seni tradisi sebagai hobi, ttapi juga menjadi duta kecil yang membawa budaya lokal Indonesia bersinar.
Semangat mereka membuktikan bahwa meski hidup di tengah gempuran musik pop, game online, dan media sosial, kecintaan pada budaya bisa terus hidup.
Kisah mereka menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga seni, melainkan juga peran keluarga dan komunitas.
Dengan kerja sama dan dedikasi, warisan budaya yang kaya dari tanah air ini akan tetap hidup, tumbuh, dan terus berkembang di tangan-tangan generasi muda bangsa Indonesia.